Jumat, 15 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

78 Tahun Nakba: Warga Palestina Sebut Perang Gaza Lebih Parah dari 1948

Warga Palestina memperingati 78 tahun Nakba di tengah kehancuran besar akibat perang Gaza.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
AKSI SOLIDARITAS PALESTINA - Pengunjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi solidaritas 'Indonesia Lawan Genosida, Dukung Palestina Merdeka'di Jakarta, Minggu (12/10/2025). Warga Palestina memperingati 78 tahun Nakba di tengah kehancuran besar akibat perang Gaza. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ringkasan Berita:
  • Warga Palestina memperingati 78 tahun Nakba di tengah kehancuran besar akibat perang Gaza. 
  • Banyak keluarga yang sebelumnya sudah menjadi pengungsi kini kembali kehilangan rumah dan harus mengungsi berkali-kali. 
  • Sejumlah warga menyebut kondisi saat ini lebih buruk dibanding tragedi Nakba 1948.

TRIBUNNEWS.COM - Sekilas, Anda mungkin akan melewatkan beberapa dinding batu yang menjadi satu-satunya sisa dari desa tempat keluarga Yusuf Abu Hamam dipaksa melarikan diri saat ia masih bayi pada 1948.

Desa itu, Al-Joura, dihancurkan oleh militer Israel saat itu. Kini, wilayah tersebut telah lenyap dan tertutup kawasan permukiman kota Ashkelon di Israel selatan serta area taman nasional.

Lingkungan tempat keluarga Abu Hamam akhirnya tinggal—dan tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya—kini juga sebagian besar telah menjadi puing. Bangunan-bangunan di Kamp Shati, Gaza utara, hancur akibat pengeboman dan penghancuran oleh Israel selama dua setengah tahun perang terakhir.

Dilansir Associated Press, pada Jumat (15/5/2026), Abu Hamam bersama jutaan warga Palestina memperingati 78 tahun Nakba, bahasa Arab untuk “bencana”, yang merujuk pada pengusiran massal dan pelarian sekitar 750.000 warga Palestina dari wilayah yang kini menjadi Israel selama perang 1948 saat berdirinya negara Israel. Ini merupakan peringatan Nakba ketiga sejak perang Gaza dimulai.

Abu Hamam yang kini berusia 78 tahun, salah satu penyintas Nakba yang jumlahnya semakin sedikit, mengatakan perang saat ini merupakan bencana yang lebih besar.

Lebih dari enam bulan setelah gencatan senjata Oktober, ia dan lebih dari 2 juta warga Gaza kini terdesak ke area kurang dari setengah wilayah Jalur Gaza sepanjang 25 mil di pesisir Mediterania, dikelilingi zona yang dikendalikan Israel.

“Sudah tidak ada negara yang tersisa,” kata Abu Hamam di dekat rumahnya yang rusak berat akibat penembakan Israel pada awal perang. “Kami hidup hanya di sekitar satu setengah kilometer persegi dari laut. Ini tak bisa digambarkan, tak tertahankan.”

Baca juga: Tolak Rencana Evakuasi ke Indonesia, Tokoh Palestina Khawatir Sejarah Nakba Terulang

Apa itu Nakba?

Bagi warga Palestina, Nakba berarti kehilangan sebagian besar tanah air mereka. Sekitar 80 persen warga Palestina yang tinggal di wilayah yang kemudian menjadi Israel terusir dari rumah mereka oleh pasukan negara baru tersebut sebelum dan selama perang. Konflik dimulai ketika pasukan Arab menyerang setelah Israel didirikan sebagai tanah air bagi orang Yahudi pasca-Holocaust. Warga Palestina yang tetap tinggal kemudian menjadi warga negara Israel.

Setelah perang, Israel menolak mengizinkan pengungsi Palestina kembali demi menjaga mayoritas Yahudi di dalam perbatasannya. Warga Palestina kemudian menjadi komunitas pengungsi permanen yang kini berjumlah sekitar 6 juta orang, sebagian besar tinggal di kamp pengungsi di Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yordania, dan Gaza.

Sekitar 530 desa Palestina di wilayah yang menjadi Israel dihancurkan, menurut Biro Statistik Palestina.

Desa kelahiran Abu Hamam adalah salah satunya. Al-Joura direbut militer Israel saat maju melawan pasukan Mesir pada November 1948. Menurut arsip militer yang dikutip sejarawan Israel Benny Morris, tentara diperintahkan menghancurkan setiap rumah di Al-Joura dan desa-desa sekitarnya agar warga Palestina tidak bisa kembali.

Gelombang pengungsi kemudian memenuhi wilayah kecil pesisir selatan yang menjadi Jalur Gaza. Mereka tinggal di kamp tenda yang dikelola badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, yang menyediakan bantuan dan pendidikan. Kamp-kamp itu, termasuk Kamp Shati tempat Abu Hamam tinggal, berkembang menjadi kawasan padat penduduk selama puluhan tahun sebelum banyak yang rata dengan tanah akibat perang Gaza terbaru.

Warga Palestina di Gaza mengalami Nakba baru

Nenek moyang Ne’man Abu Jarad dan istrinya, Majida, sudah tinggal di wilayah yang kemudian menjadi Gaza pada 1948. Keduanya mendengar kisah dari keluarga tentang para pengungsi yang berjalan kaki dari wilayah utara, termasuk dari desa asal Abu Hamam.

Meski lolos dari Nakba pertama, mereka tidak dapat menghindari apa yang kini disebut Majida sebagai “Nakba kami.”

Kota asal mereka telah dihapus dari peta. Dalam setahun terakhir, buldoser Israel dan ledakan terkendali menghancurkan hampir seluruh bangunan di kota Beit Lahiya dan Beit Hanoun di Gaza utara. Sebuah pangkalan militer Israel kini berdiri sekitar 700 meter dari lokasi rumah keluarga Abu Jarad sebelumnya, menurut foto satelit.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved