Selasa, 14 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Sikap Hati-hati Presiden Prabowo Terkait Konflik Iran vs AS-Israel

Langkah diplomasi Presiden Prabowo menyikapi konflik Iran dan Israel-AS jadi sorotan lantaran dianggap sangat berhati-hati.

Tribunnews.com/Dok Tribunnews
WAWANCARA KHUSUS - Pengamat Militer Anton Aliabbas menyampaikan pendapatnya tentang perang AS-Israel melawan Iran saat sesi wawancara khusus di Studio Tribunnews, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Ali menilai kesepakatan gencatan senjata pihak-pihak yang berperang sangat ringkih dalam beberapa poin. Langkah diplomasi Presiden Prabowo menyikapi konflik Iran dan Israel-AS jadi sorotan lantaran dianggap sangat berhati-hati. 

Berikut perikan wawancara khusus dengan Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) sekaligus pengamat militer, Anton Aliabbas dengan Tribunnews;

Tanya: Nah terkait dengan konflik di Timur Tengah juga kan terakhir-terakhir ini kita tahu ya kena juga anggota TNI kita yang bertugas sebagai pasukan pengamanan PBB UNIFIL, tiga pasukan tiga anggota TNI meninggal dunia dan kemudian ada beberapa juga yang terluka sekitar 7 orang 8 orang 11 totalnya, 3 meninggal sisanya terluka berarti ini kan juga terdampak langsung buat pasukan kita yang menjaga perdamaian di sana. Apakah desakan untuk menarik pasukan TNI di UNIFIL adalah keputusan yang tepat atau ada opsi lainnya yang bisa ditawarkan?

Jawab: Ya pertama tentu ketika ada tiga prajurit TNI yang gugur itu adalah duka cita yang mendalam kehilangan kita yang mendalam itu satu. Kedua harus dipahami bahwa serangan yang dilakukan oleh Israel itu bukanlah kali pertama. Sebelumnya juga Israel pernah melakukan serangan walaupun di tempat yang berbeda tapi di kawasan yang sama di Lebanon Selatan UNIFIL markas UNIFIL yang di mana ada orang walaupun waktu itu tentara Indonesia nggak meninggal dunia hanya luka-luka. Gitu tapi ini gitu kedua.

Ketiga apa kemudian harus kita respons bagi saya memang satu kita sudah merespons dengan adanya kecaman dan permintaan investigasi. Itu dilakukan oleh Dubes Umar Hadi di PBB gitu.

Apakah itu cukup ketika misalnya ada ketua MPR mengusulkan untuk menarik diri. Satu bagi saya ketika bicara UNIFIL, UNIFIL ini sudah sebentar lagi habis sebenarnya mandatnya. Ya kan ini sekarang ini sudah sedang perpanjangan gitu ya perpanjangan gitu jadi akhir tahun ini selesai semestinya gitu dan penarikan selesainya adalah tanggal di tahun depan gitu penarikan mundurnya gitu jadi bagi saya ya sudah mau habis.

Tapi apakah tidak ada hal strategis lain yang bisa dilakukan bagi saya ada dua hal yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah ketika kita bicara tentang misi UNIFIL, UNIFIL itu adalah penjaga perdamaian peacekeeper. Dia menjalankan mandat PBB untuk menjaga sebuah kawasan perdamaian di mana terjadi gencatan senjata.

Dan kondisinya pasca sejak dari perang Iran Amerika Serikat, Lebanon Selatan itu terjadi eskalasi yang sangat luar biasa. Jadi sebenarnya dari sisi mandat itu memang secara otomatis sebenarnya sudah hilang kenapa kawasan itu sudah jadi berperang.

Kan dia harus menjaga memang kawasannya sedang lagi gencatan senjata dia ada tapi ketika sudah perang kan sebenarnya mandatnya sudah nggak ada lagi ya tapi kan memang tidak semudah itu karena itulah kemudian hal strategis yang bisa dilakukan adalah Indonesia semestinya juga mengajak di Dewan Keamanan PBB untuk meninjau ulang misi UNIFIL.

Apakah ini masih relevan atau tidak relevan kenapa karena di situ itu sudah tidak ada lagi perdamaian di situ sudah adanya perang sementara ini kan untuk misinya misi perdamaian kan itu sebenarnya batal demi syariat tapi lagi-lagi itu kan berdasarkan resolusi PBB karena itulah kemudian di secara strategis Indonesia apa mengajak negara-negara anggota Dewan Keamanan untuk berpikir ulang ini penting untuk kita tinjau ulang apa nggak misi UNIFIL.

Jadi perlu atau tidak perlu kita kemudian nunggu sampai selesai gitu kenapa ya ini kondisinya lagi berperang karena apa karena kita tidak lagi hanya bicara tentang keselamatan prajurit kita tapi keselamatan semua yang tergabung dalam UNIFIL gitu itu satu jadi itu bagi saya yang opsi jadi memang adalah opsi untuk menarik diri dari sana adalah salah satu walaupun juga nanti misalnya ketika kita belum pulang dari misi belum selesai misinya artinya apa artinya ketika kita melakukan penarikan mundur itu semua harus Indonesia yang nanggung ya.

Bukan PBB ya itu nggak bisa direimburse ya kan belum selesai Anda yang minta pulang termin di tengah-tengah Anda tanggung sendiri ya gitu ada berapa nah itu ya kan jadi memang ada cost yang memang harus ditanggung gitu walaupun oh ini kan nggak nyawa apa nyawa ya kita kan juga nih dalam menjalankan misi yang apa dan juga apa amanat dari pembukaan Undang-Undang Dasar partisipasi dalam perdamaian dunia.

Yang kedua saya lagi-lagi berharap pemerintah kita yang ada di Jakarta itu mestinya memang meresonansi apa yang dilakukan oleh diplomat-diplomat di PBB. Jadi antara Jakarta dan New York itu semestinya sama-sama membuat statement yang sama. Hmm jadi di sana buat statement di sini juga buat statement gitu statement apa ya statement-nya sama bahwa kami melakukan ini kami mengecam ini kami meminta ini secara resmi itu satu. Menlu sudah ngomong waktu pas kemarin tapi bagi saya lagi-lagi saya sih berharapnya Pak Presiden yang ngomong.

Baca juga: VIDEO EKSKLUSIF Konflik Iran–AS Memanas: Dilema Indonesia di Panggung Dunia

Tanya: Langsung RI 1-nya?

Jawab: RI 1 sebagai kepala negara kita tidak terima kita mengecam keras kita prihatin gitu ini keprihatinan yang mendalam duka yang mendalam kami mengecam keras kami menuntut PBB untuk melakukan investigasi sudah.

Dan hal yang lain misalnya ya kita memang tidak punya apa namanya perdagangan dengan Israel secara langsung karena kita tidak punya hubungan diplomatik tapi kan juga kita tidak menutup mata bahwa ada berbagai produk Israel yang masuk ke kita walaupun dengan menggunakan negara pihak ketiga.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved