Iran Vs Amerika Memanas
Trump Semakin Tidak Populer, Warga AS Frustasi dengan Kenaikan Harga BBM
Jajak pendapat menunjukkan bahwa perang terhadap Iran tidak populer di kalangan sebagian besar warga Amerika.
Informasi terbaru perang di Timur Tengah pagi ini
- Blokade Selat Hormuz: Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz setelah para negosiator gagal mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
- Negosiasi Batal: Kemarin AS dan Iran mengakhiri negosiasi selama 21 jam di Islamabad tanpa mencapai kesepakatan sehingga nasib gencatan senjata yang rapuh selama dua minggu itu masih belum jelas.
- Efek Domino: Harga minyak kembali menembus angka $100 per barel pada hari Minggu karena blokade tersebut mengancam akan semakin mengganggu perekonomian global dan menjaga harga bensin tetap tinggi. Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 8 persen.
- Harga bensin AS: Saat ini sekitar $4,125 per galon, sudah naik lebih dari 40 persen sejak konflik dimulai. Jika blokade Selat Hormuz benar-benar terjadi, para ahli mengira harga bisa naik lebih tinggi karena terganggunya jalur distribusi minyak global.
- Sindir warga AS: Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengeluarkan peringatan kepada warga Amerika Serikat (AS) untuk "menikmati" harga BBM saat ini. Kata dia warga AS akan "merindukan" harga bahan bakar murah.
TRIBUNNEWS.COM, AS - Popularitas politik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menurun di dalam negei.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa perang terhadap Iran tidak populer di kalangan sebagian besar warga Amerika.
Terutama karena warga Amerika frustrasi dengan kenaikan harga BBM yang diakibatkan oleh perang melawan Iran.
Tingkat persetujuan presiden telah mencapai titik terendah.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan Partai Republik, pendukung Trump, bahwa partainya akan kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilihan paruh waktu.
Mayoritas anggota parlemen dari Demokrat, lawan politik Trump, dapat melancarkan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump, sekaligus memblokir sebagian besar agenda legislatifnya.
Senator AS Mark Warner dari Virginia, anggota Demokrat terkemuka di Komite Intelijen Senat, mempertanyakan strategi di balik rencana blokade Trump.
"Saya tidak mengerti bagaimana memblokade selat itu akan mendorong Iran untuk membukanya," katanya kepada program "State of the Union" CNN pada hari Minggu.
Baca juga: Warga AS Menjerit, Harga Solar Melejit Tembus Rp85 Ribu Gegara Perang Iran
Dalam penampilan terpisah di acara "Face the Nation" CBS, Warner mengatakan bahwa blokade tersebut tidak akan melemahkan kendali Iran atas jalur perairan tersebut.
"Iran memiliki ratusan kapal cepat yang masih bisa mereka gunakan untuk memasang ranjau di selat atau menjatuhkan bom terhadap kapal tanker dalam upaya menutup selat," katanya.
"Bagaimana itu bisa menurunkan harga gas?"
Meskipun Trump berulang kali mengatakan bahwa perang akan segera berakhir, Senator Republik AS Ron Johnson dari Wisconsin mengatakan kepada program "This Week" ABC News pada hari Minggu bahwa mencapai tujuan AS di Iran "bisa memakan waktu lama."
"Ini akan menjadi proyek jangka panjang," kata Johnson, yang tidak ditanya tentang usulan blokade Trump.
"Saya tidak pernah berpikir ini akan mudah."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KESEHATAN-TRUMP-Gambar-tangkap-layar-di-media-sosial.jpg)