Iran Vs Amerika Memanas
Rusia Siap Terima Uranium yang Diperkaya Milik Iran, Putin Beri Usulan ke AS tapi Belum Direspons
Rusia menawarkan untuk menampung uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian.
Ringkasan Berita:
- Pembicaraan akhir pekan antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
- Rusia, yang memiliki persediaan senjata nuklir terbesar di dunia, telah berulang kali menawarkan untuk menampung uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian apa pun.
- Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyampaikan usulan itu kepada AS.
TRIBUNNEWS.COM - Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian di masa depan dengan Amerika Serikat (AS).
Tawaran ini disampaikan Kremlin pada Senin (13/4/2026).
Pembicaraan akhir pekan antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, membahayakan gencatan senjata dua minggu yang rapuh.
Pembicaraan di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung dari Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026) pagi waktu setempat, adalah pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Rusia, yang memiliki persediaan senjata nuklir terbesar di dunia, telah berulang kali menawarkan untuk menampung uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian apa pun.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyampaikan usulan itu kepada AS.
Namun, kata Peskov, AS belum menanggapi tawaran dari Rusia tersebut.
“Usulan ini disampaikan oleh Presiden Putin dalam kontak dengan Amerika Serikat dan negara-negara regional. Tawaran itu masih berlaku, tetapi belum ditindaklanjuti,” ujarnya kepada wartawan, Senin, dilansir Al Arabiya.
Dalam pernyataannya, Kremlin juga mengkritik ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz, jalur air penting yang telah lumpuh sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
“Tindakan seperti itu kemungkinan akan terus berdampak negatif pada pasar internasional,” kata Peskov.
Baca juga: AS Mau Blokade Selat Hormuz, Intelijen AS: Iran Masih Punya Cukup Persediaan Rudal
AS Blokade Pelabuhan Iran
Komando Pusat AS mengatakan blokade AS, yang dimulai pukul 10 pagi ET pada hari Senin (1400 GMT), akan "diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman."
Militer AS mengatakan, kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran tidak akan terhambat.
"Informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan resmi sebelum dimulainya blokade," katanya, Senin, dikutip dari Al Arabiya.
Presiden AS Donald Trump pada hari Senin melalui platform Truth Social miliknya mengonfirmasi pernyataan militer AS tersebut.
Trump mengatakan, pasukan AS juga akan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar bea masuk kepada Iran.
“Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” ungkap Trump di media sosial, Minggu (12/4/2026).
“Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan dihancurkan," tegasnya.
Dia menambahkan, Angkatan Laut AS akan mulai menghancurkan ranjau yang dijatuhkan Iran di Selat Hormuz, titik rawan bagi sekitar 20 persen pasokan energi global.
Meskipun data pengiriman menunjukkan tiga kapal tanker super yang penuh muatan minyak melewati Selat pada hari Sabtu, kapal tanker menghindari jalur air tersebut pada hari Senin, menjelang blokade AS.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan melonjak lebih dari 7 persen hingga mencapai lebih dari $100 per barel dalam perdagangan Senin pagi di Asia, sementara dolar melonjak dan harga saham berjangka AS turun setelah pengumuman blokade tersebut.
“Trump menginginkan solusi cepat,” kata Dana Stroul, mantan pejabat senior Pentagon selama pemerintahan Biden yang sekarang bekerja di The Washington Institute for Near East Policy.
“Kenyataannya, misi ini sulit dilaksanakan sendirian dan kemungkinan besar tidak berkelanjutan dalam jangka menengah hingga panjang," jelasnya.
Tanggapan Iran
Militer Iran mengatakan blokade angkatan laut AS yang akan dimulai pada Senin, akan ilegal dan sama dengan pembajakan.
Iran memperingatkan tidak ada pelabuhan Teluk yang akan aman jika pelabuhan mereka sendiri terancam.
“Pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika yang kriminal terhadap navigasi dan transit maritim di perairan internasional adalah ilegal dan merupakan contoh pembajakan,” kata sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, yang dibacakan di televisi pemerintah, Senin, masih dari Al Arabiya.
Baca juga: Militer AS Siap Blokade Pelabuhan Iran, Analis Nilai Bakal Perburuk Krisis Energi Global
Iran akan secara tegas menerapkan “mekanisme permanen” untuk mengendalikan Selat Hormuz menyusul ancaman AS untuk memblokadenya.
“Jika keamanan pelabuhan Republik Islam Iran di perairan Teluk (Arab) dan Laut Arab terancam, tidak ada pelabuhan di Teluk (Arab) dan Laut Arab yang akan aman,” tambahnya.
Adapun perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir pada Minggu (12/4/2026) tanpa kesepakatan, menimbulkan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi ketika gencatan senjata dua minggu akan berakhir pada 22 April 2026.
Saat perundingan berakhir di ibu kota Pakistan, Islamabad, kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.
Tidak ada kabar apakah negosiasi akan dilanjutkan, dan Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran.
Para negosiator kini akan kembali ke ibu kota masing-masing dan mempertimbangkan kembali langkah selanjutnya.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.