Iran Vs Amerika Memanas
Selat Hormuz Jadi Jalur Paling Berbahaya, Ini Jumlah Kapal yang Lewat dan Jadi Target Serangan
Selat Hormuz makin berbahaya! Ratusan kapal tetap melintas, 22 diserang, dan dunia kini waspada krisis energi hingga pangan global.
Ringkasan Berita:
- Konflik AS dan Iran membuat Selat Hormuz berubah menjadi jalur pelayaran paling berisiko di dunia, dengan ancaman blokade, patroli militer, hingga potensi serangan kapal.
- Data mencatat sekitar 279 kapal masih berhasil melewati Selat Hormuz sejak konflik dimulai dan sedikitnya 22 kapal dilaporkan mengalami serangan di berbagai wilayah Teluk.
- FAO memperingatkan gangguan di Selat Hormuz berpotensi menciptakan krisis pangan global yang lebih parah dari masa pandemi.
TRIBUNNEWS.COM - Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kini disebut sebagai salah satu rute laut paling berbahaya di dunia di tengah meningkatnya konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Status berbahaya ini berawal dari meningkatnya persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia.
Iran, yang menguasai sisi utara selat, secara konsisten menggunakan posisi geografisnya sebagai alat tekanan geopolitik terhadap negara-negara Barat.
Dalam berbagai periode konflik sebelumnya, Iran beberapa kali mengancam akan membatasi atau menutup jalur pelayaran sebagai respons terhadap sanksi ekonomi dan tekanan militer dari AS.
Ancaman ini kemudian berkembang menjadi aksi lebih nyata seperti peningkatan patroli militer, inspeksi kapal, hingga potensi penggunaan ranjau laut dan rudal anti-kapal.
Di sisi lain, Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya melalui armada laut di kawasan Teluk, termasuk pengerahan kapal perang dan sistem pengawasan maritim untuk melindungi jalur perdagangan energi global.
Kondisi itu membuat Selat Hormuz berubah jadi jalur paling berbahaya di dunia.
Bahkan sistem pelacakan maritim LSEG dan Kpler mencatat aktivitas pelayaran di jalur energi terpenting dunia macet usai konflik memanas.
Aktivitas Kapal Tetap Berlangsung di Tengah Blokade
Kendati situasi keamanan memburuk, aktivitas pelayaran tetap berlangsung. Sejumlah kapal tanker masih terlihat memasuki kawasan Teluk melalui jalur sempit tersebut, meskipun risiko serangan dan gangguan meningkat tajam.
Pada hari Selasa (14/4/2026), setidaknya tiga kapal tanker dilaporkan berhasil memasuki Teluk melalui Selat Hormuz.
Salah satunya adalah kapal Peace Gulf berbendera Panama yang menuju pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab.
Baca juga: Krisis Mengintai! Kekacauan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Pangan, Cekik Negara Miskin
Kapal tersebut diketahui melintasi rute baru di sekitar Pulau Larak, wilayah yang disebut telah diatur ulang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai bagian dari pengaturan jalur navigasi di tengah situasi konflik.
IRGC disebut mewajibkan kapal-kapal yang melintas untuk mengikuti jalur khusus yang telah ditentukan, sebagai langkah pengawasan di wilayah perairan strategis yang menjadi titik sensitif konflik.
Sebelumnya, dua kapal tanker lain yang masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat juga dilaporkan berhasil melewati jalur yang sama.
Meski demikian, kapal-kapal tersebut tetap beroperasi di tengah situasi keamanan yang tidak stabil akibat meningkatnya tensi militer di kawasan Teluk.