Badan Atom Dunia: Korea Utara Kebut Produksi Senjata Nuklir
Laporan menunjukkan perluasan signifikan dalam kapasitas Pyongyang untuk memproduksi bahan fisil (isotop) untuk senjata atom.
Badan Atom Dunia: Korea Utara Kebut Produksi Senjata Nuklir
TRIBUNNEWS.COM - Korea Utara dilaporkan menunjukkan 'peningkatan yang sangat serius' dalam kemampuannya memproduksi senjata nuklir.
Hal itu diungkapkan kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, merujuk pada meningkatnya operasi kerja di seluruh fasilitas utama nuklir Korea Utara.
Menurut AFP, saat berbicara di Seoul, Rafael Grossi mengatakan kalau badan yang dipimpinnya telah mengamati "peningkatan pesat dalam operasi kerja" di kompleks nuklir Yongbyon, Korea Utara.
Baca juga: Korea Utara Kecam Serangan AS-Israel ke Iran: Agresi Ilegal, Pelanggaran Terhadap Kedaulatan
Peningkatan aktivitas ini terjadi di unit reaktor, unit pengolahan ulang, dan reaktor air ringan.
Perkembangan ini, katanya, menunjukkan perluasan signifikan dalam kapasitas Pyongyang untuk memproduksi bahan fisil untuk senjata atom.
Sebagai informasi bahan fisil adalah material nuklir, utamanya isotop seperti uranium-235 dan plutonium-239, yang mampu mempertahankan reaksi berantai fisi nuklir saat ditembak neutron (bahkan neutron lambat/termal).
Bahan ini melepaskan energi besar dan krusial dalam pembangkit listrik tenaga nuklir serta senjata nuklir.
Muncul Fasilitas Baru
Situs Yongbyon adalah pusat program nuklir Korea Utara, meskipun sebelumnya diklaim kalau sebagian dari fasilitas tersebut telah dinonaktifkan.
Situs tersebut diaktifkan kembali pada tahun 2021.
Bersamaan dengan pembukaan kembali situs itu, IAEA mengidentifikasi adanya fasilitas tambahan, termasuk "fasilitas baru yang mirip dengan fasilitas pengayaan di Yongbyon".
Meskipun inspektur IAEA belum memiliki akses memeriksa sejak tahun 2009, badan tersebut bergantung pada citra satelit dan analisis eksternal.
Grossi mengatakan bahwa "tidak mudah untuk menghitung" peningkatan yang tepat, tetapi menambahkan kalau perkembangan yang dapat diamati menunjukkan "peningkatan signifikan dalam kapasitas pengayaan" negara tersebut, yang secara resmi dikenal sebagai Republik Demokratik Rakyat Korea.
AFP menulis bahwa Korea Utara yang terisolasi secara diplomatik diyakini mengoperasikan beberapa fasilitas untuk memperkaya uranium, sebuah langkah kunci dalam pembuatan hulu ledak nuklir, menurut badan intelijen Korea Selatan.
Bersikeras Kembangkan Senjata Nuklir
Korea Utara melakukan uji coba nuklir pertamanya pada tahun 2006 dan tetap berada di bawah sanksi menyeluruh oleh PBB atas program senjatanya.
Mereka secara konsisten menyatakan kalau mereka tidak akan meninggalkan persenjataan nuklirnya, yang diperkirakan terdiri dari beberapa lusin hulu ledak.
Terlepas dari meningkatnya kekhawatiran atas hubungannya dengan Rusia di tengah perang di Ukraina, Grossi mengatakan IAEA belum mengamati "sesuatu yang khusus" yang menunjukkan keterlibatan langsung Rusia dalam pengembangan nuklir Pyongyang.
Namun demikian, temuan tersebut menggarisbawahi perluasan kemampuan nuklir Korea Utara yang stabil dan berkelanjutan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan regional dan global.
Uji coba Rudal Angkatan Laut
Pada Selasa (14/4/2026), Korea Utara melakukan uji coba baru rudal jelajah strategis dan rudal anti-kapal sebagai bagian dari uji coba operasional untuk kapal perusak kelas Choe Hyon, lapor media pemerintah Korea Utara, KCNA.
Kim Jong Un mengawasi langsung peluncuran tersebut bersama para pejabat militer senior, menandakan fokus berkelanjutan pada penguatan kemampuan serangan angkatan laut.
Rudal jelajah dilaporkan terbang selama antara 7.869 dan 7.920 detik, sementara rudal anti-kapal tetap berada di udara selama sekitar 1.960 hingga 1.973 detik sebelum menghantam target di lepas pantai barat dengan apa yang digambarkan sebagai "akurasi ultra-presisi".
Menurut KCNA, dua rudal jelajah dan tiga rudal anti-kapal ditembakkan untuk mengevaluasi sistem komando senjata terpadu kapal perang, kesiapan awak, dan peningkatan kinerja navigasi, termasuk kemampuan anti-gangguan.
Kim juga diberi pengarahan tentang rencana penambahan dua kapal perusak, yang menunjukkan perluasan armada.
Ia menegaskan kembali bahwa penguatan pencegahan nuklir tetap menjadi prioritas, menyerukan peningkatan kemampuan serangan dan kesiapan respons cepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peluncuran-rudal-Korea-Utara.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.