Kamis, 23 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Seperti Tak Mau Ada Perdamaian, Netanyahu Tetap Akan Serang Iran Meski Ada Perundingan dengan AS

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu nekat akan tetap menyerang Iran meski ada perundingan damai dengan AS.

Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu nekat akan tetap menyerang Iran meski ada perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS).
  • Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan video bahwa AS terus memberikan informasi terbaru kepada Israel mengenai kontaknya dengan Iran.
  • Ia menekankan bahwa pihaknya siap menghadapi segala skenario, termasuk kemungkinan pecahnya kembali perang jika kesepakatan tidak tercapai.

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengaku negaranya siap melanjutkan perang dengan Iran.

Padahal, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah memberikan isyarat perundingan damai dengan Iran bakal terjadi.

Baik AS maupun Iran telah berupaya menjembatani kesenjangan yang tersisa dan mencapai kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir pada 21 April 2026.

Bahkan, delegasi Pakistan yang dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir Ahmed Shah tiba di Teheran pada Rabu (15/4/2026) untuk melakukan pembicaraan langsung dengan para pejabat Teheran.

Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan video, AS terus memberikan informasi terbaru kepada Israel mengenai kontaknya dengan Iran.

"Kami ingin melihat material uranium yang diperkaya milik Iran disingkirkan, dan kami ingin melihat penghapusan kemampuan pengayaan uranium di dalam Iran."

"Dan tentu saja, kami ingin melihat pembukaan kembali selat tersebut," ucap Netanyahu, mengutip The Times of Israel.

Ia menekankan, pihaknya siap menghadapi segala skenario, termasuk kemungkinan pecahnya kembali perang jika kesepakatan tidak tercapai.

"Terlalu dini untuk memprediksi hasil akhirnya."

"Namun, melihat dinamika yang ada, kami bersiap untuk skenario apa pun, termasuk melanjutkan pertempuran," tegas Netanyahu dalam sebuah video singkat.

Baca juga: Konflik Iran di Luar Skenario AS, Trump Dinilai Tak Siap Perang Jangka Panjang

AS Siap Damai dengan Iran

Upaya damai antara AS dan Iran dilaporkan menunjukkan titik terang.

Pakistan, yang mengambil peran sebagai mediator, disebut-sebut berhasil membawa kedua negara ke arah terobosan diplomatis yang selama ini dinanti dunia.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, optimisme ini mencuat setelah adanya laporan "kemajuan besar" terkait program nuklir Iran.

Langkah ini menjadi krusial mengingat masa gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan segera kedaluwarsa pada 21 April 2026 mendatang.

Untuk merealisasikan perundingan itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir Ahmed Shah telah mendarat di Teheran.

Misi utamanya adalah membawa pesan khusus dari AS sekaligus memastikan perundingan putaran kedua bisa segera digelar.

Sementara menurut laporan Axios, seorang pejabat AS mengatakan tim negosiasi Trump terus melakukan panggilan dan bertukar draf proposal dengan pihak Iran pada hari Selasa.

"Mereka saling menghubungi melalui telepon dan jalur komunikasi rahasia dengan semua negara, dan mereka semakin mendekat," kata pejabat AS tersebut.

Seorang pejabat AS kedua mengkonfirmasi, kemajuan telah dicapai pada Selasa (14/4/2026).

"Kami ingin membuat kesepakatan. Dan sebagian dari pemerintah mereka juga ingin membuat kesepakatan."

Baca juga: Setelah Trump, Iran Bakal Longgarkan Selat Hormuz dengan Syarat Konsesi dari AS

"Sekarang tantangannya adalah bagaimana membuat seluruh pemerintah di sana menyetujui kesepakatan tersebut," kata seorang pejabat AS ketiga.

Babak baru pembicaraan langsung tatap muka kemungkinan akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang sebelum gencatan senjata berakhir.

Meski begitu, tanggal pasti untuk pertemuan antara AS dengan Iran belum ditetapkan.

Wapres AS, JD Vance merasa optimis kesepakatan damai dengan Iran akan segera tercapai.

"Saya pikir orang-orang yang duduk di hadapan kita ingin membuat kesepakatan. Saya merasa sangat optimis dengan posisi kita saat ini," tegasnya.

Komentar Vance sangat penting karena wakil presiden tersebut tidak bernegosiasi langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved