Iran Vs Amerika Memanas
Perundingan Oman Sempat Beri Harapan Damai, Pengamat: Serangan AS Picu Ketidakpercayaan Iran
Momentum positif perundingan Oman dinilai runtuh setelah Amerika Serikat serang Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung.
Menurutnya, dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari 40 hari, Iran justru menunjukkan kapasitas yang lebih besar dari perkiraan awal.
“Awalnya kita memperkirakan kemampuan rudal Iran seperti itu saja. Tapi setelah perang kedua ini, ternyata stok rudalnya masih banyak dan semakin lama semakin akurat,” jelasnya.
Nostalgiawan menilai Iran sebagai “negara pembelajar” yang banyak mengambil pelajaran dari sejarah konflik global, terutama terkait strategi embargo energi.
Ia menyinggung praktik embargo minyak yang pernah dilakukan Arab Saudi pada 1967 dan 1973, yang berdampak besar terhadap dinamika perang dan ekonomi global saat itu.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi referensi penting bagi Iran dalam memanfaatkan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan.
“Iran membaca bahwa Selat Hormuz bisa menjadi kekuatan embargo energi yang menjadi alternatif dari kekuatan militer tradisional,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti ketahanan domestik Iran di tengah konflik yang berkepanjangan. Berbeda dengan negara lain, Iran dinilai tidak mengalami kepanikan masyarakat seperti panic buying.
Baca juga: Intel Bocor! Iran Gunakan Satelit China untuk Lacak dan Kunci Target Serangan ke Pangkalan AS
Hal ini, menurutnya, tidak lepas dari kesiapan Iran menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk dalam aspek ketahanan pangan, energi, dan militer.
“Kita tidak melihat adanya panic buying di dalam negeri Iran. Mereka sudah siap dengan kemungkinan perang terburuk,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, seperti di Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar, turut membentuk kewaspadaan militer Iran selama bertahun-tahun.
Kondisi tersebut mendorong Iran untuk terus memperkuat kapasitas pertahanan, termasuk dalam pengembangan rudal.
“Selama hampir 50 tahun diblokade secara ekonomi, Iran mampu membuat rudal dalam jumlah besar,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Iran juga dinilai mampu mengakali tekanan ekonomi melalui kerja sama dengan negara lain, seperti China dan Rusia, termasuk melalui mekanisme pertukaran minyak mentah dengan teknologi.
“Bagaimana minyak mentah ditukarkan dengan teknologi dari China atau Rusia itu menjadi catatan tersendiri,” pungkasnya.
Perkembangan Terkini dan Peluang Perang Berakhir
Sementara itu para negosiator Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-Iran-Amerika-Serikat-bendera-124fdasfa.jpg)