Sabtu, 25 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Sita Kapal Iran yang Nekat Tembus Blokade Selat Hormuz

AS sita kapal Iran di Hormuz, Teheran murka dan ancam balasan saat negosiasi mandek dan blokade laut masih berlaku

HO/IST/dok. Roland Berger
SELAT HORMUZ - Iran menolak Selat Hormuz kembali ke status quo yang dinikmati sebelum pecah perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz tertutup bagi AS dan sekutunya, tetapi kapal dari negara lain tetap dapat menggunakannya. Terbaru, Trump mengatakan pasukan AS menyita kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menembus blokade laut di sekitar Selat Hormuz, memperuncing ketegangan di tengah gencatan senjata yang masih rapuh. 

Ketegangan meningkat di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi penghubung utama perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut setiap hari.

Sejak blokade laut diberlakukan oleh AS, aktivitas pelayaran di wilayah itu menurun, dengan sejumlah kapal tanker memilih menunda perjalanan atau mengalihkan rute untuk menghindari risiko keamanan.

Iran sebelumnya sempat membuka kembali akses Selat Hormuz secara terbatas setelah gencatan senjata diberlakukan, namun kembali memperketat kontrol setelah Washington menegaskan blokade akan tetap berjalan hingga tercapai kesepakatan baru.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan posisi tegas negaranya terkait situasi tersebut.

“Tidak mungkin negara lain melewati selat ini sementara kami tidak bisa,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan sikap keras Teheran terhadap tekanan dari AS.

Situasi menjadi semakin kompleks karena insiden ini terjadi bersamaan dengan rencana pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan.

Pembicaraan tersebut sebelumnya diharapkan dapat membuka jalan bagi perpanjangan gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat.

Namun, media pemerintah Iran melaporkan Teheran belum menyetujui keikutsertaan dalam putaran negosiasi berikutnya.

Iran menilai blokade laut dan tekanan militer AS masih menjadi hambatan utama dalam proses diplomasi.

Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa blokade terhadap Iran akan tetap diberlakukan sampai tercapai kesepakatan yang memenuhi kepentingan Washington.

“Blokade ini akan tetap berlaku sepenuhnya sampai ada kesepakatan,” tegasnya.

Ia juga membuka kemungkinan langkah tambahan jika situasi tidak berubah.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata dapat runtuh sewaktu-waktu.

Baca juga: Dampak Perang Iran-AS: Pariwisata Jepang Lesu, Pasokan Aluminium Seret

Jika itu terjadi, konflik berpotensi meluas kembali di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah analis menilai penyitaan kapal ini sebagai titik krusial dalam dinamika konflik AS-Iran.

Insiden ini dinilai meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara kedua negara.

Selain itu, gangguan terhadap jalur energi global juga menjadi perhatian utama.

Pasar internasional menghadapi ketidakpastian di tengah meningkatnya ketegangan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved