Senin, 4 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pasukan Iran Siaga 100 Persen, Siap Serang Target yang Ditentukan jika AS Lancarkan Serangan Baru

Iran segera menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru.

Tayang:
Penulis: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Pasukan Iran disebut telah lama berada dalam keadaan siaga 100 persen.
  • Iran segera menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru.
  • Tanggapan Iran menyusul ancaman berulang kali oleh Presiden AS Donald Trump dan para komandan militer Amerika.

TRIBUNNEWS.COM - Militer Iran mengatakan, mereka akan segera menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya jika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru apa pun terhadap negara itu.

Peringatan itu disampaikan dalam pernyataan oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Rabu (22/4/2026).

Tanggapan Iran menyusul apa yang Zolfaghari sebut sebagai ancaman berulang kali oleh Presiden AS Donald Trump dan para komandan militer Amerika.

“Pasukan kita yang cakap dan kuat telah lama berada dalam keadaan siaga 100 persen dan siap serta siaga untuk bertindak,” kata Zolfaghari, Rabu, dilansir Anadolu Agency.

Zolfaghari menambahkan, jika terjadi “agresi dan tindakan apa pun terhadap Republik Islam Iran,” pasukan Iran akan “segera dan dengan dahsyat menyerang target yang telah ditentukan.”

Pernyataan itu disampaikan setelah Trump mengatakan pada Selasa (21/4/2026) bahwa Amerika Serikat akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran menyusul permintaan dari pejabat Pakistan dan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku.

Trump mengatakan dia telah mengarahkan militer AS untuk mempertahankan blokade dan memperpanjang gencatan senjata sampai Teheran menyerahkan apa yang disebutnya sebagai "proposal terpadu."

Iran Tak Mau Kirim Delegasi

Gencatan senjata AS dan Iran selama 14 hari, berakhir pada Rabu (22/4/2026).

Namun, pada Selasa, kantor berita semi-resmi Tasnim mengatakan Iran telah memberitahu Pakistan mereka tidak akan mengirim delegasi untuk berdialog dengan AS.

“Terlepas dari semua pemberitaan media dan spekulasi oleh pejabat AS, tim negosiasi Iran, karena berbagai alasan, telah memberitahu pihak Amerika, melalui Pakistan, bahwa mereka tidak akan menghadiri pembicaraan pada hari Rabu di Islamabad,” lapor Tasnim.

“Untuk saat ini, tidak ada prospek untuk berpartisipasi dalam pembicaraan,” kata laporan itu.

Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu, tapi Iran Tak Mau Hadiri Pembicaraan dengan AS

Sementara itu, perpanjangan gencatan senjata disebut sebagai "taktik untuk mengulur waktu" demi serangan mendadak, kata seorang penasihat ketua parlemen dan negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.

Penasihat Qalibaf mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa kelanjutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran "tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer."

Ribuan orang telah tewas sejak perang dimulai di berbagai negara di Timur Tengah, dan ekonomi global telah terguncang oleh penutupan Selat Hormuz, jalur vital untuk minyak dan gas.

AS-Iran Berpegang Teguh pada Retorika Mereka

Sebelum mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, Trump telah memperingatkan bahwa "banyak bom" akan "mulai meledak" jika tidak ada kesepakatan sebelum batas waktu hari Rabu.

Sementara kepala negosiator Iran mengatakan bahwa Teheran memiliki "kartu baru di medan perang" yang belum diungkapkan.

Seorang komandan senior di Korps Garda Revolusi Islam Iran mengancam akan menghancurkan industri minyak kawasan itu jika perang dengan AS berlanjut.

“Jika negara-negara tetangga di selatan mengizinkan musuh menggunakan fasilitas mereka untuk menyerang Iran, mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada produksi minyak di kawasan Timur Tengah,” kata Jenderal Majid Mousavi kepada sebuah berita Iran.

Pada Selasa, AS mengatakan pasukannya menaiki sebuah kapal tanker minyak yang sebelumnya dikenai sanksi karena menyelundupkan minyak mentah Iran di Asia.

Pentagon mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa pasukan AS menaiki M/T Tifani "tanpa insiden."

Baca juga: Efek Domino Penyitaan Kapal Iran oleh AS Picu Potensi Perang Asimetris di Jalur Maritim yang Krusial

Militer AS tidak menyebutkan di mana kapal itu dinaiki, meskipun data pelacakan kapal menunjukkan Tifani berada di Samudra Hindia antara Sri Lanka dan Indonesia pada hari Selasa.

Pernyataan Pentagon menambahkan bahwa "perairan internasional bukanlah tempat berlindung bagi kapal-kapal yang dikenai sanksi."

Militer AS pada hari Minggu menyita sebuah kapal kontainer Iran, pencegatan pertama di bawah blokade tersebut.

Komando militer gabungan Iran menyebut aksi naik ke kapal bersenjata itu sebagai tindakan pembajakan dan pelanggaran gencatan senjata.

PERANG IRAN - Ilustrasi peperangan antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam perkembangan situasi pertempuran, kedua negara mengajukan syarat-syarat untuk penghentian perang, diyakini akan ditolak oleh masing-masing kubu.
PERANG IRAN - Ilustrasi peperangan antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam perkembangan situasi pertempuran, kedua negara mengajukan syarat-syarat untuk penghentian perang, diyakini akan ditolak oleh masing-masing kubu. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Penguasaan Selat Hormuz Kunci Negosiasi

Utusan Iran untuk PBB mengatakan pada Selasa Teheran telah "menerima beberapa tanda" bahwa AS siap untuk menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Duta Besar Amir Saeid Iravani mengatakan, mengakhiri blokade tetap menjadi syarat bagi Iran untuk bergabung kembali dalam perundingan perdamaian.

Ketika itu terjadi, katanya, “Saya pikir putaran negosiasi selanjutnya akan berlangsung.”

Diberitakan AP News, AS memberlakukan blokade tersebut untuk menekan Teheran agar mengakhiri cengkeramannya di Selat Hormuz, jalur pelayaran utama yang dilalui oleh 20 persen gas alam dan minyak mentah dunia pada masa damai.

Cengkeraman Iran atas selat tersebut telah menyebabkan harga minyak melonjak.

Baca juga: Armada Nyamuk Iran Bikin Pusing Angkatan Laut AS di Hormuz: Ribuan Kapal Serang Cepat Susah Dilacak

Minyak mentah Brent, standar internasional, diperdagangkan mendekati $95 per barel pada hari Selasa, naik lebih dari 30 persen dari 28 Februari, hari ketika Israel dan AS menyerang Iran untuk memulai perang.

Sebelum perang dimulai, Selat Hormuz sepenuhnya terbuka untuk pelayaran internasional.

Trump menuntut agar kapal-kapal kembali diizinkan untuk melintas tanpa hambatan.

Pada akhir pekan, Iran mengatakan bahwa mereka telah menerima proposal baru dari Washington, tetapi juga mengisyaratkan bahwa masih ada kesenjangan yang lebar antara kedua pihak.

Isu-isu yang menggagalkan putaran negosiasi sebelumnya termasuk program pengayaan nuklir Iran, proksi regionalnya, dan selat tersebut.

Sejak perang dimulai, setidaknya 3.375 orang telah tewas di Iran, menurut pihak berwenang.

Selain itu, 23 orang tewas di Israel dan lebih dari selusin di negara-negara Teluk Arab.

Lima belas tentara Israel di Lebanon dan 13 anggota militer AS di seluruh wilayah tersebut telah tewas.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved