Iran Vs Amerika Memanas
Bayang-Bayang Kegagalan di Vietnam Hantui Pasukan Amerika di Perang Iran
Perang melawan Iran saat ini mencerminkan situasi kegagalan Pasukan Amerika saat Perang Vietnam. Kenapa keunggulan senjata menjadi tak berarti?
Hersh berpendapat, strategi ini sudah mulai membuahkan hasil.
Dengan menolak bernegosiasi dan memaksa Donald Trump untuk memperpanjang gencatan senjata yang awalnya ditentangnya, Iran mampu mendikte kecepatan dan arah konflik.
Pernyataan Trump bahwa gencatan senjata akan berlanjut "sampai mereka mengajukan proposal mereka" ditafsirkan sebagai bukti kalau Teheran sedang mengatur jadwalnya.
Kesabaran Jadi Kunci
Artikel ini memperkuat argumen tersebut dengan analisis dari para ahli, termasuk Hai Nguyen dari Kennedy School Universitas Harvard, yang menjelaskan bahwa perang asimetris sering kali berakhir menguntungkan pihak yang lebih lemah ketika mereka memanfaatkan kesabaran pihak yang lebih kuat yang terbatas.
Menurut Nguyen, Iran memahami bahwa meskipun Amerika mungkin memiliki keunggulan militer yang luar biasa, mereka tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan perang yang berkepanjangan.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Hersh bahwa Teheran menargetkan kelemahan utama Amerika: toleransi mereka yang terbatas terhadap konflik yang berkepanjangan.
Perang yang berkepanjangan juga menimbulkan keraguan terhadap klaim kemenangan militer AS yang menentukan, karena Teheran masih mempertahankan kemampuan militer yang signifikan.
Para pejabat intelijen AS telah mengakui bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal dan drone, selain sebagian besar kekuatan angkatan lautnya di Selat Hormuz.
Lebih lanjut, laporan menunjukkan bahwa kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran terus menghindari embargo AS, sehingga melemahkan upaya untuk mengisolasi negara itu secara ekonomi.
Sama seperti Vietnam Utara sebelumnya, penulis berpendapat kalau Iran tidak mencari kemenangan militer yang cepat, melainkan perang gesekan yang berkepanjangan, baik secara psikologis maupun ekonomi.
Dengan mengendalikan Selat Hormuz dan mengganggu aliran minyak global, Teheran menimbulkan biaya yang jauh melampaui medan perang.
Hirsch menunjukkan, dimensi dan aspek ekonomi ini bisa sangat penting, terutama dengan meningkatnya harga energi dan inflasi serta dampaknya terhadap politik domestik AS menjelang pemilihan paruh waktu.
Hersh menyimpulkan, "Konflik dalam perang Iran vs AS telah memasuki fase di mana ukuran kemenangan militer tradisional tidak lagi cukup, melainkan ketahanan, kemauan politik, dan pengaruh ekonomi telah menjadi faktor penentu."
(oln/frgnplcy/khbrn/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/OPERASI-TEMPUR-Tentara-Amerika-dengan-bendera-negaranya.jpg)