Konflik Rusia Vs Ukraina
Terlilit Perang, Rusia Jual 22 Ton Emas Sepanjang Tahun 2026
Bank Sentral Rusia menjual sekitar 22 ton emas sejak awal 2026. Penjualan dilakukan untuk menutup defisit anggaran negara.
Pada kuartal pertama 2026, defisit negara mencapai 4,6 triliun rubel, jauh lebih tinggi daripada defisit 3,8 triliun rubel yang diproyeksikan untuk sepanjang tahun, menurut laporan The Moscow Times.
Pendapatan total Rusia turun 8,2 persen menjadi 8,3 triliun rubel antara Januari dan Maret, sementara pengeluaran melonjak 17 persen menjadi 12,9 triliun rubel.
Sektor energi menjadi yang paling terdampak, dengan pendapatan minyak dan gas anjlok 45 persen menjadi 1,4 triliun rubel.
Diperkirakan Rusia menghasilkan sekitar 120 miliar rubel dari penjualan emas pada Januari, jumlah yang tidak cukup untuk menutupi defisit anggaran.
Laporan menyebutkan bahwa meskipun terjadi penjualan, nilai keseluruhan cadangan emas Rusia meningkat 23 persen pada Januari menjadi 402,7 miliar dolar AS, didukung oleh harga emas yang tinggi.
“Penjualan untuk membiayai defisit anggaran mungkin akan berlanjut di tengah peningkatan tajam pengeluaran pemerintah dibandingkan dengan angka anggaran yang direncanakan. Penjualan emas dari cadangan oleh Bank Sentral Federasi Rusia ini cukup konsisten dengan apa yang dilakukan bank sentral lain, terutama di negara-negara berkembang,” kata Natalia Milchakova, analis utama di Freedom Finance Global, kepada The Moscow Times.
Emas secara tradisional berperan dalam mendukung nilai mata uang suatu negara.
Banyak negara memiliki cadangan emas sebagai bagian dari strategi keuangan mereka.
Pada 1 Maret, emas menyumbang 47 persen dari cadangan devisa Rusia sebesar 809 miliar dolar AS.
Namun, karena sanksi Barat, Rusia tidak dapat mengakses sebagian cadangan tersebut.
Langkah Rusia untuk menjual logam mulia ini merupakan pergeseran dari tren global, di mana bank sentral justru menumpuk emas dalam beberapa tahun terakhir.
Tren ini muncul karena negara-negara berupaya mendiversifikasi cadangan mereka dari dolar AS.
“Saat ini, sejumlah bank sentral terus menjual emas karena kebutuhan untuk menutupi pengeluaran, termasuk untuk pertahanan, serta akibat kenaikan harga energi dan upaya mempertahankan nilai tukar mata uang nasional,” kata Dudchenko.
Menurut Milchakova, bank sentral diharapkan membeli emas saat harganya rendah dan menjual saat harganya tinggi.
Hal ini bertujuan menjaga likuiditas dan membantu menstabilkan sistem perbankan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/oto-ilustrasi-emas-diambil-dari-situs-bebas-royalti-Pexels-Bank-Sent.jpg)