Iran Vs Amerika Memanas
Trump Tanggapi Kanselir Jerman yang Sebut Iran Permalukan AS: Dia Tidak Tahu Apa yang Dibicarakan
Donald Trump membalas kritik Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait kegagalan diplomasi AS dengan Iran.
Namun, seorang pejabat AS mengatakan bahwa Donald Trump tidak senang dengan proposal Iran karena tidak membahas program nuklir negara tersebut.
“Dia tidak menyukai proposal itu,” kata pejabat AS tersebut, mengutip Reuters.
Trump vs Eropa
Selama Perang Iran, Trump kerap mengecam sekutu-sekutu Eropa atas keengganan mereka untuk membantu AS dalam konflik tersebut, terutama setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia.
Mengutip POLITICO, Eropa menghabiskan hari-hari awal perang dengan menolak seruan Trump untuk mengambil peran aktif.
“Eropa tidak tertarik pada perang tanpa akhir,” kata Kaja Kallas, Wakil Presiden Komisi Eropa, pada bulan Maret.
“Ini bukan perang Eropa, tetapi kepentingan Eropa dipertaruhkan secara langsung.”
Baca juga: Kanselir Jerman Ejek AS telah Dipermalukan Iran, Teheran: Fakta yang Diakui Barat
Seorang pejabat Jerman, yang meminta namanya dirahasiakan untuk membahas percakapan sensitif, mempertanyakan pernyataan Merz yang menyerang Trump.
“Kita dapat melihat bahwa tidak ada seorang pun di lingkaran dalam Trump yang memiliki kompetensi atau pandangan jauh ke depan dalam diplomasi, dan bahwa ‘seni bernegosiasi’-nya telah mencapai batasnya," ujar pejabat tersebut.
"Kita sudah melihat ini selama negosiasi Ukraina. Meskipun demikian, ini bukanlah pernyataan yang bijaksana dari Merz, karena akan memperdalam jurang pemisah dalam hubungan transatlantik."
"Bagian dari diplomasi adalah tidak mengatakan setiap kebenaran dengan lantang. Terkadang diam juga memiliki nilai.”
Ini bukan pertama kalinya Merz mengkritik kepemimpinan Donald Trump.
Pada bulan Februari, ia mengatakan kepada hadirin di Konferensi Keamanan Munich bahwa AS tidak lagi dapat diandalkan untuk mengawasi tatanan dunia global.
"Kepemimpinan Trump telah memicu perpecahan yang dalam antara Eropa dan Amerika Serikat," katanya.
"Klaim kepemimpinan AS sedang ditantang, mungkin sudah hilang."
"Di era kekuatan besar, kebebasan kita tidak lagi sekadar terjamin. Kebebasan kita terancam."
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)