Minggu, 3 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Tak Hanya Jerman, AS Juga Berencana Tarik Pasukannya dari Spanyol dan Italia

Presiden AS, Donald Trump memperluas ancaman penarikan pasukannya dari wilayah Eropa. Setelah Jerman, Spanyol dan Italia juga terkena getahnya.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Ancaman penarikan pasukan AS di wilayah Eropa, tak hanya terjadi di Jerman, tetapi juga di wilayah Spanyol dan Italia.
  • Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan alasannya untuk menarik tentaranya dari Spanyol dan Italia.
  • Menurut Trump, Spanyol dan Italia "pelit" bantuan dalam perang melawan Iran.
  • Ia merasa AS sudah habis-habisan membentengi Eropa, namun justru ditinggal sendirian saat butuh dukungan di Timur Tengah.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memperluas ancamannya ke wilayah Eropa.

Sebelumnya, Pentagon secara resmi mengumumkan perintah penarikan sekitar 5.000 personel militer AS dari pangkalan mereka di Jerman.

Kini, Trump mengancam bakal memulangkan pasukan militer AS yang bermarkas di Spanyol dan Italia.

Bukan tanpa alasan, Trump menyebut Spanyol dan Italia "pelit" bantuan dalam perang melawan Iran.

Dalam sebuah pernyataannya, Trump terang-terangan meluapkan rasa kecewanya.

Ia merasa AS sudah habis-habisan membentengi Eropa, namun justru ditinggal sendirian saat butuh dukungan di Timur Tengah.

"Italia tidak ada bantuannya sama sekali."

"Spanyol? Spanyol lebih parah lagi, benar-benar mengerikan!" ketus Trump di hadapan media, mengutip RT, Sabtu (2/5/2026).

Emosi Trump disinyalir memuncak karena Spanyol dan Italia enggan mengirim armada laut untuk membantu AS mengamankan Selat Hormuz.

Padahal, menurut Trump, jalur tersebut sangat penting bagi pasokan energi Eropa.

Baca juga: Resmi! AS Bakal Tarik 5.000 Pasukannya dari Jerman Buntut Perseteruan Trump-Merz

Ia juga menyindir sikap 'cuek' para sekutu NATO soal Ukraina.

"Kita bantu mereka urusan Ukraina yang jauhnya seberang lautan, tapi waktu kita butuh mereka, mereka tidak ada. Ini harus kita ingat," tambahnya.

Tarik Pasukan dari Jerman

AS secara resmi bakal menarik pasukannya dari wilayah Jerman.

Tak tanggung-tanggung, jumlah pasukan AS yang bakal ditarik dari wilayah Jerman sebanyak 5.000 tentara.

Langkah ini diambil hanya berselang dua hari setelah Trump melontarkan ancaman pengurangan pasukan di negara sekutu NATO tersebut.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth telah menandatangani perintah penarikan yang dijadwalkan rampung dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan ke depan.

Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil evaluasi mendalam terhadap strategi militer AS di wilayah Eropa.

"Keputusan ini mengikuti tinjauan menyeluruh atas postur kekuatan kami di Eropa, dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kondisi terkini di lapangan," ujar Parnell dalam keterangan resminya, Jumat (1/5/2026), mengutip Reuters.

Menanggapi pengumuman tersebut, Pemerintah Jerman tampak tenang.

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul menyatakan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan pengurangan pasukan ini.

Baca juga: Trump Tanggapi Kanselir Jerman yang Sebut Iran Permalukan AS: Dia Tidak Tahu Apa yang Dibicarakan

"Jerman sudah siap. Kami terus mendiskusikan hal ini secara intensif dengan semangat saling percaya di internal NATO," ungkap Wadephul.

Meski demikian, langkah AS ini tetap memicu kekhawatiran para analis mengenai masa depan stabilitas keamanan di Eropa, mengingat peran vital Jerman sebagai pusat komando pasukan Amerika di Benua Biru selama puluhan tahun.

Berawal dari Kritikan Merz

Hubungan panas antara AS dengan Jerman berawal dari Kanselir Jerman, Friedrich Merz melontarkan kritikan pedas terhadap kebijakan luar negeri Trump.

Merz menilai AS saat ini tengah berada dalam posisi yang memalukan, karena terus-menerus "dipermalukan" oleh diplomasi Iran yang cerdik.

Dalam sebuah diskusi bersama pelajar di Marsberg, Jerman, Merz tidak menahan diri untuk menyebut bahwa AS sedang dipermalukan secara terang-terangan oleh rezim Teheran, khususnya oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

"Pihak Iran sangat mahir bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat ahli dalam 'tidak bernegosiasi'."

"Mereka membiarkan delegasi AS terbang jauh-jauh ke Islamabad hanya untuk memulangkan mereka tanpa hasil apa pun," sindir Merz, mengutip The Guardian.

Menanggapi kritikan Merz, Trump menyerang balik pemimpin Jerman tersebut dengan menyebutnya tidak paham apa yang sedang dia bicarakan terkait isu nuklir dan strategi menghadapi Iran.

"Dia (Merz) sama sekali tidak tahu apa yang dia bicarakan," tegas Trump, mengutip dari CNN.

Dalam pembelaannya, Trump membanggakan rekam jejaknya pada periode pertama kepresidenannya.

Ia mengeklaim bahwa kebijakan "tekanan maksimum" miliknya, termasuk penarikan diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan pemberian sanksi ekonomi, telah berhasil membuat Iran bertekuk lutut secara finansial.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved