Minggu, 10 Mei 2026

WNI Korban Sindikat Scammer Kini Jadi Gelandangan di Jalanan Kamboja

Sejumlah WNI kini terlantar dan hidup terlunta-lunta tanpa pekerjaan sejak gencaranya operasi penggerebekan markas scammer oleh otoritas Kamboja.

Tayang:
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/dok. The Straits Times
MENGGELANDANG TANPA UANG DAN PASPOR - Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang kini terlantar dan hidup terlunta-lunta tanpa pekerjaan sejak Pemerintah Kamboja memberantas markas para sindikat scammer (penipu) negeri itu. Mereka antara lain seperti yang terlihat tmenggelandang tidur di atas tikar jerami di malam hari di sebuah sudut jalan tidak jauh dari gedung KBRI di Phnom Penh. 

Sudah dua bulan ia berada di jalanan, menunggu bantuan kedutaan Indonesia untuk kembali ke rumah.

Ia mengaku butuh dokumen resmi untuk bisa kembali pulang ke Indonesia karena dia dinyatakan telah overstay alias tinggal melebihi batas waktu di Kamboja saat bersembunyi di kompleks sindikat penipuan tersebut.

ST tidak dapat memverifikasi secara independen klaim kedua pria tersebut tentang ditipu untuk bekerja di kompleks penipuan. Kedutaan Indonesia belum menjawab pertanyaan mengenai masalah ini.

Pada 24 April 2026, Otoritas Kamboja menyatakan bahwa pihak berwenang negara itu telah menindak lebih dari 250 lokasi sindikat penipuan online dan menutup 91 kasino sejak Juli 2025 hingga pertengahan April 2026.

Penindakan agresif ini telah menimbulkan kekhawatiran munculnya pengangguran baru karena mereka yang selama ini bekerja untuk sindikat tersebut, kini menganggur.

Sulit untuk memperkirakan berapa jumlah riil pekerja yang bekerja di sindikat kelompok penipu di Kamboja, karena pusat-pusat tersebut beroperasi seperti pintu putar.

Baca juga: Nasib Apes Intan: Suaminya Ternyata Perempuan, Diajak Pergi ke Kamboja

Para pekerja direkrut secara berkala dan kemudian lokasi kerjanya dipindah-pindah ke berbagai lokasi di negara tersebut.

Sebagian lainnya bergabung ke sindikat tersebut secara sukarela karena iming-iming bayaran, sebagian lainnya tertipu karena tawaran pekerjaan.

Banyak di antara mereka yang akhirnya terjebak setelah paspor mereka disita oleh operator.

Dalam laporan terbaru pada 24 April 2026, Pemerintah Kamboja mengatakan bahwa 241.888 individu dari negara-negara seperti Tiongkok, Pakistan, dan Indonesia telah meninggalkan negara itu secara sukarela antara pertengahan Januari dan 19 April.

Namun banyak mantan pekerja di pusat sindikat penipuan memutuskan tetap berada di Kamboja, beberapa di antaranya ditampung oleh organisasi non-pemerintah atau di fasilitas penampungan sementara seperti di dekat bandara lama Phnom Penh.

“Jika ribuan pekerja yang kehilangan tempat tinggal dibiarkan tanpa tempat tinggal atau tersebar tanpa rencana yang jelas untuk repatriasi atau perlindungan, negara berisiko mengalami krisis keamanan sekunder,” kata analis independen berbasis di Phnom Penh, Vanly Seng, merujuk pada kemungkinan bahwa para pekerja ini mungkin beralih ke kejahatan karena putus asa.

Laporan juga muncul secara daring tentang beberapa mantan pekerja penipuan perempuan yang mengklaim bahwa mereka diperkosa setelah ditinggalkan dan harus bertahan hidup di jalanan.

“Ini dengan cepat berubah menjadi bencana kemanusiaan, dengan otoritas lokal dan organisasi internasional berjuang untuk mengatasinya,” kata John Wojcik, peneliti ancaman senior di perusahaan keamanan siber AS, Infoblox.

Aliansi Anti-Penipuan Global memperkirakan sebanyak 442 miliar dolar AS hilang akibat tindak penipuan pada tahun 2025. Sebuah laporan PBB pada tahun 2026 mengatakan industri penipuan di wilayah Mekong saja bernilai lebih dari 43,8 miliar dolar AS per tahun.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved