Iran Vs Amerika Memanas
AS-Iran Saling Serang di Hormuz, Harga Minyak Tembus 101 Dolar AS per Barel, Perang Kembali Memanas?
Harga minyak melonjak usai AS dan Iran saling serang di Selat Hormuz, pasar khawatir perang kembali memanas.
“Pembicaraan berjalan sangat baik, tetapi mereka harus memahami bahwa jika perjanjian itu tidak ditandatangani, mereka akan mengalami banyak kesulitan,” kata Trump kepada wartawan.
Trump bahkan menyebut serangan terbaru terhadap Iran hanya sebagai “sentuhan kasih sayang”.
Pasar Khawatir Jalur Energi Dunia Lumpuh
Ketegangan di Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran besar di pasar global.
BBC melaporkan aktivitas pengiriman di selat tersebut hampir lumpuh sejak akhir Februari akibat ancaman serangan terhadap kapal tanker minyak.
Para pedagang kini memandang gencatan senjata AS-Iran sebagai sesuatu yang sangat rapuh.
Profesor madya Universitas James Cook Australia, Jiajia Yang, mengatakan pasar khawatir aksi militer lebih lanjut akan mengancam distribusi energi global.
“Ketakutan terbesar pasar adalah terganggunya pengiriman energi dunia melalui Selat Hormuz,” ujarnya seperti dikutip BBC.
Peneliti ekonomi Universitas Nasional Singapura, Huifeng Chang, mengatakan pasar bereaksi sangat sensitif karena investor melihat risiko konflik masih sangat tinggi.
Baca juga: AS Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz, Iran Pukul Mundur Kapal AS ke Teluk Oman
Menurutnya, ketidakpastian terkait negosiasi damai membuat harga minyak menjadi sangat fluktuatif.
“Para pedagang melihat gencatan senjata ini sangat rapuh,” kata Chang.
Al Jazeera melaporkan harga minyak kini naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang dimulai.
Pasar memperkirakan konflik telah mengurangi produksi global hingga 14,5 juta barel minyak per hari.
Pasar Saham Asia Ikut Terguncang
Lonjakan harga minyak juga memicu tekanan besar di pasar saham Asia.
Al Jazeera melaporkan indeks Nikkei 225 Jepang, KOSPI Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong sama-sama turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Jumat pagi.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 juga melemah sekitar 0,4 persen setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru.