Iran Vs Amerika Memanas
AS-Iran Saling Serang di Hormuz, Harga Minyak Tembus 101 Dolar AS per Barel, Perang Kembali Memanas?
Harga minyak melonjak usai AS dan Iran saling serang di Selat Hormuz, pasar khawatir perang kembali memanas.
Investor khawatir konflik yang kembali memanas akan memperburuk inflasi global dan meningkatkan biaya energi di banyak negara.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperlambat pemulihan ekonomi dunia yang masih rapuh pascapandemi dan krisis geopolitik beberapa tahun terakhir.
Selain itu, lonjakan harga energi juga berpotensi meningkatkan harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga harga pangan di berbagai negara.
Negosiasi Damai Masih Berlangsung
Meski situasi memanas, Amerika Serikat dan Iran diketahui masih melanjutkan pembicaraan damai.
Baca juga: Iran Bikin Kapal Perusak AS Mundur dari Selat Hormuz, IRGC Lakukan Serangan Pakai Rudal dan Drone
BBC melaporkan Iran saat ini sedang meninjau proposal terbaru dari Washington terkait upaya mengakhiri perang.
Trump mengatakan dirinya optimistis kesepakatan masih bisa dicapai dalam waktu dekat.
“Saya yakin mereka lebih menginginkan kesepakatan itu daripada saya,” kata Trump.
Namun, di lapangan, situasi tetap penuh ketegangan.
Militer Iran mengklaim pasukannya telah memberikan “kerusakan signifikan” terhadap kapal-kapal militer AS.
Sebaliknya, militer Amerika Serikat membantah kapal mereka terkena serangan.
CENTCOM juga menegaskan pihaknya tidak ingin meningkatkan konflik lebih jauh.
Media pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa situasi di Selat Hormuz telah kembali “normal”.
Meski demikian, pasar global tampaknya belum sepenuhnya percaya bahwa kondisi benar-benar stabil.
Risiko Harga Minyak Tetap Tinggi
CNBC melaporkan sejumlah analis memperkirakan harga minyak masih akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Bank investasi ANZ Research menilai risiko kegagalan kesepakatan damai AS-Iran akan membuat pasar energi terus bergejolak.