Iran Vs Amerika Memanas
20.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz, Belum Digaji Berbulan-bulan, Perdamaian Masih Abu-abu!
Sekitar 20.000 pelaut terdampar di Selat Hormuz saat AS-Iran bentrok dan jalur minyak dunia lumpuh.
Federasi Pekerja Transportasi Internasional atau ITF menyebut kondisi tersebut sebagai situasi yang sangat mengerikan bagi pekerja sipil.
“Sejak awal tahun, kita melihat pasukan militer menaiki kapal seperti abad ke-17,” kata Sekretaris Jenderal ITF Stephen Cotton.
“Ini agak gila, karena mereka hanyalah pelaut. Mereka hanyalah pekerja,” ujarnya.
Organisasi Maritim Internasional PBB atau IMO bahkan menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan maritim yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Banyak Pelaut Belum Digaji Berbulan-bulan
Selain ancaman perang, banyak pelaut juga menghadapi persoalan ekonomi serius.
Al Jazeera melaporkan sejumlah awak kapal bekerja untuk agen tidak resmi yang tidak memenuhi standar internasional.
Sebagian pelaut mengaku belum menerima gaji selama berbulan-bulan.
Anish mengatakan dirinya belum dibayar selama sembilan bulan oleh agennya yang berbasis di Dubai.
Ia seharusnya menerima pembayaran pada akhir Mei, tetapi khawatir perusahaannya justru akan menahan gaji tersebut.
“Tanggal akhir kontrak saya adalah 20 Mei,” katanya.
“Mungkin perusahaan akan membayar setelah itu. Saya tidak tahu,” ujarnya.
Masalah lain muncul karena rotasi kru kapal kini hampir mustahil dilakukan.
Berdasarkan Konvensi Perburuhan Maritim 2006, pelaut maksimal bekerja 12 bulan di atas kapal.
Baca juga: Sistem Pertahanan Udara UEA Respons Ancaman Rudal, AS dan Iran Sempat Baku Tembak di Selat Hormuz
Namun perang membuat pergantian awak dan penerbangan internasional menjadi sangat sulit dilakukan.
Akibatnya banyak pelaut terpaksa tetap bekerja meski masa kontraknya sudah habis.