Iran Vs Amerika Memanas
20.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz, Belum Digaji Berbulan-bulan, Perdamaian Masih Abu-abu!
Sekitar 20.000 pelaut terdampar di Selat Hormuz saat AS-Iran bentrok dan jalur minyak dunia lumpuh.
Ancaman di Selat Hormuz tidak hanya datang dari rudal dan drone.
Para ahli juga khawatir terhadap kemungkinan ranjau laut yang dipasang Iran di sekitar jalur perairan tersebut.
Al Jazeera melaporkan pejabat AS sebelumnya mengklaim Iran memasang ranjau secara sembarangan dan tidak mengetahui lokasi seluruh ranjau tersebut.
Pakar keamanan maritim Rand Corporation, Scott Savitz, mengatakan pembersihan ranjau bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Selain itu, kapal-kapal komersial juga terus menjadi sasaran serangan.
Perusahaan intelijen maritim Lloyd’s List melaporkan sedikitnya empat kapal komersial ditembaki hanya dalam beberapa hari terakhir.
Sebuah kapal kontainer milik perusahaan Prancis CMA CGM juga dilaporkan diserang saat melintas di jalur perairan tersebut.
Di sisi lain, Iran dan AS saling menangkap kapal yang diduga terkait dengan pihak lawan.
Iran menahan dua kapal kargo berbendera asing.
Sementara Angkatan Laut AS menangkap tiga kapal komersial yang disebut memiliki hubungan dengan Iran.
Situasi itu membuat para pelaut semakin takut menjadi korban berikutnya.
Perdamaian Masih Jauh dari Kepastian
Di tengah situasi yang memburuk, Presiden Donald Trump mengatakan pembicaraan damai dengan Iran berjalan sangat baik.
Trump bahkan menyebut peluang tercapainya kesepakatan perdamaian “sangat mungkin”.
Namun di lapangan, serangan dan ketegangan masih terus berlangsung.
AS sempat berencana memandu kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz melalui operasi angkatan laut khusus.
Namun rencana itu kemudian ditangguhkan demi memberi ruang bagi negosiasi damai.
Baca juga: Israel Kunci Sistem Pelacak Serangan, Khawatir Iran Gunakan Data untuk Hantam Balik
Meski nantinya Selat Hormuz dibuka kembali, para ahli memperingatkan pemulihan perdagangan global tidak akan berlangsung cepat.
Infrastruktur pelabuhan yang rusak, penumpukan kapal, dan ancaman ranjau laut diperkirakan tetap menghambat arus perdagangan dunia selama berbulan-bulan.
Bagi ribuan pelaut yang masih terjebak di laut, satu hal yang paling mereka tunggu hanyalah kepastian untuk pulang dengan selamat.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)