Iran Vs Amerika Memanas
Dipimpin Inggris, 40 Negara Bahas Rencana Militer di Selat Hormuz, Apa Kata Iran?
Inggris dan Prancis memimpin pertemuan virtual 40 negara untuk membahas pengamanan kapal melalui Selat Hormuz dengan bantuan Iran.
Ia juga menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk blokade di selat tersebut, baik oleh Iran maupun Amerika Serikat.
Kondisi di Selat Hormuz memburuk sejak perang AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Iran disebut sebagian besar menutup jalur pelayaran komersial di kawasan itu, sementara Amerika Serikat merespons dengan memperketat blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran.
Ketegangan tersebut memicu gangguan besar pada rantai perdagangan global, terutama karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz.
Akibat konflik yang terus meningkat di Selat Hormuz, biaya pengiriman dan harga minyak global ikut melonjak, sementara risiko keamanan bagi kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut semakin tinggi.
Inggris dan Prancis berharap misi multinasional yang tengah disiapkan dapat memulihkan kepercayaan dunia internasional terhadap keamanan jalur perdagangan strategis itu, dikutip dari Al Jazeera.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula dari meningkatnya ketegangan pada 28 Februari, ketika Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah wilayah strategis di Iran. Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dan posisinya kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan dari Majelis Ahli Iran.
Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Selama ini, Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk kepentingan damai dan energi sipil.
Situasi kemudian berkembang menjadi perang terbuka setelah Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Di saat yang sama, Iran menghentikan seluruh pembicaraan nuklir dan memberlakukan blokade di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia yang selama ini dilalui sebagian besar ekspor minyak global.
Penutupan Selat Hormuz memicu gejolak besar di pasar internasional, ditandai dengan lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran akan krisis energi global. Setelah konflik berlangsung selama 40 hari, Washington dan Teheran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang mulai berlaku pada 8 April. Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas oleh Presiden AS Donald Trump.
Meski gencatan senjata berjalan, ketegangan tetap berlanjut. Sejak 13 April, AS dilaporkan mulai menerapkan blokade laut terhadap aktivitas pelayaran Iran di kawasan tersebut. Upaya membuka kembali jalur diplomasi sempat dilakukan ketika Washington berencana mengirim delegasi ke Islamabad pada 25 April, namun rencana itu dibatalkan setelah Iran menolak dialog langsung dengan AS.
Walaupun demikian, komunikasi tidak sepenuhnya terputus. Iran tetap menggunakan Pakistan sebagai mediator untuk menyampaikan syarat dan posisi mereka terkait penghentian perang. Pada 1 Mei, Teheran mengirim proposal baru kepada Washington melalui Islamabad. Namun proses negosiasi kembali terganggu setelah AS meluncurkan operasi militer bertajuk “Proyek Kebebasan” di Selat Hormuz yang semakin meningkatkan ketegangan di kawasan strategis tersebut.
Di tengah upaya melanjutkan perundingan, Trump pada Selasa lalu mengumumkan operasi “Proyek Kebebasan” serta aktivitas militer AS di Selat Hormuz dihentikan sementara hingga proses negosiasi dengan Iran selesai dilakukan.
Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait rencana perdamaian dan gencatan senjata yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Trump menyebut tanggapan Teheran sebagai tanggapan yang “sama sekali tidak bisa diterima”, dikutip dari Reuters.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/HMS-Dr4gon-3453434.jpg)