5 Populer Internasional: Pertemuan Xi Jinping dan Trump - Ketahanan Gunung Soffeh Iran Dibom 20 Kali
Artikel ini menyoroti lima isu internasional utama, di antaranya Presiden Donald Trump dan Xi Jinping sepakat menjaga Selat Hormuz tetap terbuka
Ringkasan Berita:
- Artikel ini menyoroti lima isu internasional utama.
- Presiden Donald Trump dan Xi Jinping sepakat menjaga Selat Hormuz tetap terbuka
- Di Iran, kompleks rudal bawah tanah di Gunung Soffeh tetap berfungsi meski dibom hampir 20 kali oleh AS dan Israel.
- Nama aktris Golshifteh Farahani viral setelah dikaitkan dengan insiden penamparan Macron oleh istrinya.
- Sementara itu, Israel menyatakan perang dengan Iran belum berakhir dan merencanakan serangan baru.
TRIBUNNEWS.COM - Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menjadi fokus pemberitaan dunia dalam 24 jam terakhir.
Donald Trump dan Xi Jinping disebut sepakat bahwa "Selat Hormuz harus tetap terbuka."
Sementara itu, Iran tetap mampu meluncurkan rudal meski fasilitas bawah tanah di dekat Isfahan digempur hampir 20 kali oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Berikut berita populer internasional selengkapnya.
1. Xi Jinping dan Trump Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka, China Berminat Beli Lebih Banyak Minyak AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat bahwa "Selat Hormuz harus tetap terbuka."
Kesepakatan Donald Trump dan Xi Jinping ini disampaikan oleh Gedung Putih pada Kamis (14/5/2026), setelah pertemuan puncak AS-Tiongkok di Beijing.
Gedung Putih membagikan pernyataan tentang pembicaraan Trump-Xi, tanpa menyebutkan isu Taiwan, dan secara panjang lebar merujuk pada perang Iran dan Selat Hormuz.
“Presiden Trump mengadakan pertemuan yang baik dengan Presiden Xi dari China,” kata Gedung Putih, Kamis, seperti diberitakan Anadolu Agency.
“Kedua pihak membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara kedua negara kita, termasuk memperluas akses pasar bagi bisnis Amerika ke Tiongkok dan meningkatkan investasi Tiongkok ke industri kita."
"Para pemimpin dari banyak perusahaan terbesar Amerika Serikat turut hadir dalam sebagian pertemuan tersebut,” demikian pernyataan itu.
China Disebut Minat Beli Lebih Banyak Minyak AS
Para pejabat AS menyebut kemungkinan China membeli lebih banyak energi AS setelah Presiden Donald Trump dan Xi Jinping mengadakan pembicaraan di Beijing pada hari Kamis.
Gedung Putih mengatakan Xi menyatakan minat untuk membeli lebih banyak minyak AS untuk mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz.
Tak lama kemudian, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa mereka telah membahas kemungkinan Beijing membeli lebih banyak energi, dan bahwa produksi dari Alaska akan menjadi hal yang "alami" bagi China.
Tidak ada penyebutan pembelian energi dalam ringkasan pertemuan yang diterbitkan oleh media pemerintah China.
Dikutip dari Al Arabiya, pembelian energi dan produk pertanian AS oleh China telah diisyaratkan sebagai bagian yang mungkin dari kesepakatan, meskipun belum ada detail konkret yang diungkapkan.
2. Gunung Soffeh Dibom 20 Kali, 'Kota Rudal' Iran Tetap Aman: Apa yang Tersembunyi di Bawah Isfahan?
Iran masih terus meluncurkan rudal meski fasilitas bawah tanahnya di dekat Isfahan digempur hampir 20 kali oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Fakta itu memunculkan perdebatan baru di kalangan militer dunia: apakah kekuatan bom penghancur bunker paling canggih milik AS ternyata tidak cukup untuk melumpuhkan jaringan rudal bawah tanah Iran secara permanen.
Kompleks rudal bawah tanah di Gunung Soffeh, selatan Isfahan, kini menjadi simbol ketahanan strategi militer Iran.
Isfahan (atau Esfahan) bukan sekadar kota bersejarah dengan arsitektur Persia yang memukau; dalam kacamata strategi pertahanan, kota ini adalah jantung dari kompleks militer-industri Iran.
Kota ini dikelilingi oleh pegunungan Zagros, yang memberikan perlindungan alami dan memungkinkan militer Iran membangun fasilitas bawah tanah (deep-buried facilities) yang tahan terhadap serangan bom penghancur bunker (bunker buster).
Serangan demi serangan yang dilancarkan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit hingga B-52 Stratofortress memang menghancurkan sejumlah pintu terowongan, gudang senjata, dan jalur logistik.
Namun, beberapa jam setelah dibombardir, aktivitas peluncuran rudal disebut kembali berlangsung dari kawasan yang sama.
Seorang warga Isfahan menggambarkan situasi itu dengan kalimat yang kemudian viral di media sosial dan forum pertahanan internasional.
“Gunung itu hampir setiap malam dibom, kami melihat asap membubung. Tetapi saat pagi tiba, justru dari gunung yang sama rudal kembali meluncur ke langit,” ujarnya.
Fenomena tersebut membuat doktrin “Missile Cities” atau “Kota Rudal” milik Iran kembali menjadi sorotan.
Doktrin itu memang dirancang untuk memastikan kemampuan serangan balasan Iran tetap bertahan meski menghadapi superioritas udara Barat.
Infrastruktur rudal Iran dibangun ratusan meter di dalam pegunungan granit di berbagai provinsi.
3. Profil Golshifteh Farahani, Aktris Iran Diduga Penyebab Macron Ditampar Istri
Nama Golshifteh Farahani langsung viral di media sosial global.
Ia disebut-sebut sebagai penyebab Brigitte Macron diduga menampar suaminya, Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Soal Golshifteh Farahani terungkap dalam sebuah buku baru berjudul An (Almost) Perfect Couple, karya jurnalis Florian Tardif.
Jurnalis itu mengklaim bahwa percakapan dengan Farahani menyebabkan Macron ditampar istrinya di Hanoi Vietnam pada Mei tahun 2025 lalu.
Video penamparan itu sempat viral menunjukkan Macron terlihat didorong oleh Ibu Negara di dalam pesawat saat pesawat mereka baru mendarat di Vietnam tahun lalu.
Insiden tersebut semakin menarik publik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyindir Macron dengan mengatakan, “Pastikan pintunya tetap tertutup.”
Trump kemudian mengklaim bahwa istri Presiden Prancis itu “memperlakukan suaminya dengan sangat buruk” .
Lalu Siapakah Golshifteh Farahani?
Aktris Golshifteh Farahani lahir di Teheran, Iran.
Ayahnya Behzad Farahani seorang sutradara teater dan aktor dan ibunya aktris panggung Fahimeh Rahiminia.
Saudarinya adalah aktris Shaghayegh Farahani.
Nama Golshifteh diciptakan oleh ayahnya dan berarti 'bunga yang penuh kasih'.
Sedangkan nama resminya adalah Rahavard, dan berarti 'hadiah dari jalan'.
Farahani terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dan merupakan pendukung pemberantasan tuberkulosis di Iran.
Di Iran, ia adalah anggota Kooch Neshin (Nomads), sebuah band yang memenangkan kompetisi rock bawah tanah Tehran Avenue ke-2.
Sejak meninggalkan Iran, ia telah bekerja sama dengan musisi Iran pengasingan lainnya, Mohsen Namjoo.
4. Iran Kirim Pesan Keras ke AS Lewat Forum BRICS: Siap Berperang, Tapi Tetap Utamakan Diplomasi
Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi menyerukan negara-negara BRICS untuk secara tegas mengecam dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidatonya pada Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di India, Kamis (14/5/2026), Araghchi menyebut Iran menjadi korban “agresi brutal dan ilegal” dari Washington dan Tel Aviv.
Ia mengatakan Iran menghadapi apa yang disebutnya sebagai ekspansionisme dan politik perang Barat, sekaligus meminta negara-negara BRICS membantu menghancurkan “rasa superioritas palsu Barat”.
“Iran tidak dapat dipatahkan dan justru menjadi lebih kuat serta lebih bersatu ketika berada di bawah tekanan,” ujar Araghchi.
Kirim Pesan ke AS: Iran Siap Bertempur
Dalam pernyataannya, Araghchi juga mengirim pesan langsung kepada Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa Iran siap menghadapi konflik jika diperlukan.
Namun di saat yang sama, Teheran tetap membuka ruang diplomasi.
“Iran siap bertempur, tetapi juga siap mengejar dan mempertahankan diplomasi,” katanya.
Menurut Araghchi, konfrontasi Iran dengan Barat bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari perjuangan lebih besar melawan “hegemoni Barat”.
Ia menyebut perjuangan Iran berkaitan langsung dengan kepentingan negara-negara BRICS dan negara berkembang di kawasan Global South.
BRICS Disebut Simbol Tatanan Dunia Baru
Dalam forum tersebut, Araghchi menggambarkan BRICS sebagai simbol munculnya tatanan dunia baru yang dipimpin negara-negara Selatan Global.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah bergerak menuju sistem multipolar yang lebih adil, meski masih rapuh.
“Yang dulu hanya menjadi idealisme ambisius kini telah menjadi kenyataan. Namun kenyataan itu masih rapuh,” ujarnya.
Menurut Araghchi, kekuatan-kekuatan lama yang disebutnya sebagai “imperialis” kini berusaha mempertahankan dominasi global melalui tekanan dan agresi.
5. Perang Belum Berakhir, Israel Rencanakan Serangan Baru ke Iran
Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengisyaratkan kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya pada upacara pergantian komandan Angkatan Udara Israel, Katz mengatakan bahwa Iran telah mengalami “pukulan sangat berat” selama setahun terakhir yang membuat negara itu mundur bertahun-tahun di berbagai bidang.
"Iran telah menderita pukulan yang sangat berat dalam setahun terakhir, pukulan yang telah membuatnya mundur bertahun-tahun di semua bidang," katanya, Kamis (14/5/2026).
Namun, ia menegaskan bahwa “misi Israel belum berakhir” dan negaranya siap kembali bertindak jika diperlukan untuk memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel maupun kawasan.
Yisrael Katz juga menyebut bahwa Israel, bersama Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, terus berkoordinasi untuk menyelesaikan tujuan operasi terhadap Iran.
"Presiden AS Trump, berkoordinasi dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memimpin upaya untuk menyelesaikan tujuan kampanye dengan cara yang akan memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi keberadaan Israel dan AS serta dunia bebas untuk generasi mendatang," kata Yisrael Katz.
"Kami mendukung upaya tersebut dan memberikan dukungan yang diperlukan, tetapi kami mungkin akan segera diminta untuk bertindak lagi guna memastikan terwujudnya tujuan tersebut," ujarnya.
Beberapa hari lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang dengan Iran “belum berakhir,” karena AS dan Israel masih berupaya mengakhiri ambisi nuklir Teheran.
“Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran,” katanya dalam wawancara untuk acara “60 Minutes” di CBS yang ditayangkan Minggu (10/5/2026) malam.
“Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi... masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," katanya.
Ketika didesak tentang bagaimana AS dan Israel akan menyingkirkan material nuklir tersebut, Netanyahu menjawab, “Kalian masuk, dan kalian mengambilnya keluar.”
(Tribunnews.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.