Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
Tidak Ada Wanita dalam Meja Perundingan, KTT Trump-Xi Menuai Kritik, Dinilai Maskulin dan Eksklusif
KTT Donald Trump-Xi Jinping dikritik karena tidak melibatkan perempuan dalam meja perundingan tingkat tinggi.
Melalui pertemuan tersebut, China disebut berupaya mengurangi dukungan AS terhadap Taiwan, pulau berpemerintahan sendiri yang diklaim China sebagai wilayahnya.
Sementara itu, Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berusaha meredam situasi.
Saat sesi foto bersama, Trump memilih diam ketika wartawan menanyakan apakah kedua pemimpin membahas Taiwan.
Presiden AS yang biasanya dikenal blak-blakan itu juga tidak banyak menyinggung Taiwan dalam pernyataan publiknya dan hanya mengatakan bahwa dirinya dan Xi telah menyelesaikan banyak masalah.
Posisi AS Terkait Taiwan Tidak Berubah
Dalam wawancara dengan NBC News, Rubio menegaskan bahwa kata-kata Xi tidak memengaruhi kebijakan AS.
"Kebijakan AS mengenai Taiwan tidak berubah hingga hari ini maupun setelah pertemuan yang kami lakukan di sini," katanya.
"Isu itu memang diangkat. Mereka selalu mengangkatnya dari pihak mereka. Kami selalu menjelaskan posisi kami, lalu beralih ke topik lain."
Sejumlah analis menilai sikap diam Trump terkait Taiwan justru menguntungkan Taiwan.
Fokus pada Perdagangan dan Perang, Minim Pembahasan HAM
Kedua pemimpin juga membahas perang Iran dan Ukraina.
“Kami memang membahas Iran. Kami memiliki pandangan yang sangat mirip tentang bagaimana kami ingin perang itu berakhir. Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Kami ingin Selat tetap terbuka,” kata Trump.
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa kesepakatan penjualan produk pertanian bernilai puluhan miliar dolar ke China diharapkan tercapai setelah kunjungan Trump.
Kunjungan tersebut juga dihadiri sejumlah pemimpin bisnis Amerika, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang.
Pada 11 Mei, sebelum berangkat ke Beijing, Trump sempat mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa ia akan membahas kasus Jimmy Lai dengan Xi.
“Saya akan membahasnya lagi. Saya ingin dia dibebaskan,” kata Trump.
Trump menyampaikan permintaan itu sebagai permohonan pribadi kepada Xi, meskipun ia juga menyebut Jimmy Lai telah menimbulkan banyak masalah bagi pemerintah China.