Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
Mesra di KTT tapi Perang Tarif Kemudian, Siklus Unik Hubungan 9 Tahun Trump dan Xi Jinping
Donald Trump dan Xi Jinping tujuh kali bertemu sejak 2017 dengan suasana yang kerap hangat di depan publik.namun perang tarif terus membayangi.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump dan Xi Jinping telah tujuh kali bertemu sejak 2017 dengan suasana yang kerap hangat di depan publik.
- Hubungan Donald Trump dan Xi Jinping selama sembilan tahun diwarnai pola unik: diplomasi hangat di forum internasional lalu kembali memanas lewat perang tarif dan rivalitas geopolitik.
- Meski kerap menghasilkan jeda konflik dagang, ketegangan soal Taiwan, teknologi, dan perdagangan terus berulang.
TRIBUNNEWS.COM - Hubungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dengan Presiden China, Xi Jinping selama hampir satu dekade menunjukkan pola yang berulang: pertemuan hangat di meja diplomasi, lalu disusul kembali oleh ketegangan perdagangan dan rivalitas geopolitik.
Al Jazeera melaporkan, Trump dan Xi telah bertemu enam kali sejak 2017 dan kembali menggelar pertemuan puncak terbaru di Beijing pada Mei 2026.
Pertemuan tersebut menjadi kunjungan pertama presiden AS ke China sejak 2017.
KTT terbaru itu membahas sejumlah isu besar, mulai dari perang dagang, Taiwan, hingga konflik Iran.
Sejarah mencatat hubungan kedua negara kerap berubah cepat setelah pertemuan tingkat tinggi selesai.
Awal Hubungan: Mar-a-Lago dan Diplomasi Personal
Trump dan Xi pertama kali bertemu pada April 2017 di resor pribadi Trump, Mar-a-Lago, Florida.
Saat itu Trump baru beberapa bulan menjabat dan sebelumnya dikenal sangat keras terhadap praktik perdagangan China.
Ia bahkan sempat memicu kemarahan Beijing setelah menerima telepon dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.
Meski demikian, pertemuan di Mar-a-Lago berlangsung hangat.
Trump mengatakan kedua negara membuat “kemajuan luar biasa” dalam hubungan bilateral.
Baca juga: Narasi-Narasi Trump Usai Bertemu Xi Jinping: Klaim China Mau Beli Minyak dan Pesawat dari AS
Suasana diplomatik itu dibayangi keputusan Trump meluncurkan serangan udara ke Suriah saat Xi masih berada di AS.
Dari Dialog ke Perang Dagang
Pada Juli 2017, Trump dan Xi kembali bertemu di sela KTT G20 Hamburg, Jerman.
Pertemuan tersebut fokus pada Korea Utara dan hubungan ekonomi.
Hanya beberapa minggu kemudian, pemerintahan Trump memulai penyelidikan perdagangan terhadap China berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS.
Langkah itu menjadi awal perang dagang besar antara dua ekonomi terbesar dunia.
Ketegangan meningkat pada 2018 ketika Washington memberlakukan tarif terhadap barang-barang China senilai ratusan miliar dolar.
Beijing kemudian membalas dengan tarif terhadap produk AS.
Meski perang dagang memanas, Trump dan Xi tetap mempertahankan komunikasi diplomatik.
Diplomasi Mewah di Beijing
Pada November 2017, Trump melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing.
Xi menyambut Trump dengan serangkaian acara mewah, mulai dari tur Kota Terlarang, jamuan makan kenegaraan, hingga pertunjukan opera Peking.
Trump saat itu membanggakan kesepakatan bisnis senilai 250 miliar dolar AS yang melibatkan sektor energi, pertanian, dan teknologi.
Sebagian besar kesepakatan tersebut dinilai belum final dan beberapa hanya memperluas proyek yang sudah ada sebelumnya.
Tidak lama setelah kunjungan itu, AS tetap melanjutkan kebijakan tarif terhadap China.
Gencatan Senjata yang Tak Bertahan Lama
Pada Desember 2018 di KTT G20 Buenos Aires, Trump dan Xi mencoba meredakan perang dagang, dilansir BBC.
Gedung Putih menyebut pertemuan itu “sangat sukses” dan kedua negara sepakat memulai negosiasi baru terkait perlindungan kekayaan intelektual dan pencurian siber.
Kemudian pada Juni 2019 di Osaka, Jepang, keduanya kembali mencapai kesepakatan untuk menunda tarif baru dan membuka negosiasi perdagangan lebih luas.
Dari pembicaraan itu lahir kesepakatan perdagangan “fase satu”, di mana China berjanji membeli produk dan jasa AS senilai 200 miliar dolar AS.
Baca juga: Tiongkok Tak Akui Kesepakatan Borong Pesawat Boeing yang Digembar-gemborkan Trump
Pandemi COVID-19 membuat target pembelian tersebut gagal tercapai sepenuhnya.
Tarif, Huawei, dan Gencatan Senjata
Hubungan AS-China kembali memburuk dalam beberapa tahun berikutnya.
Washington memperketat pembatasan teknologi terhadap perusahaan China seperti Huawei, sementara Beijing membatasi ekspor logam tanah jarang dan bahan strategis lainnya.
Persoalan Taiwan juga terus menjadi sumber ketegangan utama.
Trump beberapa kali menyatakan akan membahas penjualan senjata ke Taiwan, sesuatu yang selalu ditentang Beijing karena menganggap pulau tersebut bagian dari wilayah China.
Pertemuan Kembali setelah Enam Tahun
Trump dan Xi kembali bertemu langsung pada Oktober 2025 di sela KTT APEC di Busan, Korea Selatan (Korsel).
Pertemuan itu terjadi setelah perang tarif terbaru membuat AS dan China saling mengenakan bea masuk hingga lebih dari 100 persen.
Kedua pemimpin akhirnya menyepakati jeda perang dagang selama satu tahun.
AS melonggarkan sebagian tarif, sementara China mencabut beberapa pembatasan ekspor logam tanah jarang dan kembali membeli produk pertanian AS.
KTT Beijing 2026
Dalam pertemuan terbaru di Beijing pekan ini, Trump dan Xi kembali mencoba menstabilkan hubungan kedua negara.
Namun seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, sejumlah perbedaan besar tetap belum terselesaikan.
China menegaskan Taiwan adalah “isu terpenting” dalam hubungan bilateral, sementara AS tetap mempertahankan dukungan militernya kepada Taipei.
Di bidang perdagangan, Trump mengklaim telah tercapai sejumlah kesepakatan bisnis besar, termasuk potensi pembelian ratusan pesawat Boeing oleh China.
Baca juga: KTT Beijing Berakhir Minim Sepakat, Tiongkok Bungkam Klaim Dagang Sepihak Donald Trump
Beijing belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Al Jazeera melaporkan pola hubungan Trump dan Xi selama sembilan tahun terakhir memperlihatkan kombinasi unik antara diplomasi personal dan persaingan strategis yang terus berulang.
Meski kedua pemimpin beberapa kali berhasil meredakan ketegangan lewat pertemuan puncak, perang tarif, rivalitas teknologi, dan isu Taiwan terus menjadi sumber konflik utama antara Washington dan Beijing.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.