Selasa, 19 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Dunia Meroket ke Level Tertinggi setelah Serangan Drone di PLTN UEA

Harga minyak dunia dilaporkan menyentung di level tertinggi pada Senin (18/5/2026) sejak perang antara AS dan Iran pecah.

Tayang:
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa harga minyak mentah dunia telah melonjak ke level tertinggi pada Senin (18/5/2026).
  • Kenaikan harga ini dipicu oleh serangan drone yang menyasar PLTN Barakah di UEA.
  • Berdasarkan data perdagangan internasional, kontrak berjangka minyak mentah Brent meroket $2,03 atau sekitar 1,86 persen ke posisi $111,29 per barel.
  • Sinyal serupa juga ditunjukkan oleh komoditas minyak mentah WTI AS yang melesat $2,31 atau 2,19 persen menuju level $107,73 per barel.

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 1 persen hingga menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Lonjakan tajam ini dipicu oleh serangan drone yang menyasar fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah di Uni Emirat Arab (UEA).

Berdasarkan data perdagangan internasional yang dikutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent meroket $2,03 atau sekitar 1,86 persen ke posisi $111,29 per barel.

Brent bahkan sempat bertengger di angka $112 per barel di awal sesi, menandai rekor tertinggi sejak awal Mei lalu.

Sinyal serupa juga ditunjukkan oleh komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang melesat $2,31 atau 2,19 persen menuju level $107,73 per barel.

Penguatan ini melanjutkan reli positif akhir pekan lalu, di mana kedua jenis minyak acuan dunia tersebut telah mengantongi keuntungan hingga lebih dari 7 persen.

Melambungnya harga minyak tidak hanya disebabkan oleh kerusakan fisik akibat serangan, melainkan juga akibat pudarnya harapan perdamaian.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang multifront yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu.

Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berlangsung pekan lalu berakhir tanpa hasil konkret.

China, sebagai negara importir minyak mentah terbesar di dunia, tidak memberikan sinyal kuat bahwa mereka bersedia turun tangan membantu meredakan konflik di Selat Hormuz.

Baca juga: Bukan Cuma Minyak, Iran Disebut Bisa Lumpuhkan Internet Dunia dari Selat Hormuz

Di tengah kebuntuan tersebut, situasi kian diperparah oleh manuver politik Washington.

Gedung Putih mengisyaratkan bahwa Trump dijadwalkan segera menggelar rapat strategis guna membahas opsi militer formal terhadap Iran.

Arab Saudi Ikut Siaga

Otoritas keamanan UEA mengonfirmasi adanya serangan udara yang menargetkan kompleks luar PLTN Barakah di Abu Dhabi.

Meskipun serangan dilaporkan hanya mengenai generator listrik di luar perimeter inti dan tidak berdampak pada kebocoran radiasi, UEA mengutuk keras tindakan tersebut dan melabelinya sebagai "serangan teroris".

"Kami sedang menginvestigasi secara menyeluruh dari mana asal muasal drone tersebut."

"Uni Emirat Arab memiliki hak penuh secara hukum internasional untuk merespons serangan ini," tegas perwakilan resmi pemerintah UEA, mengutip Reuters.

Di saat yang bersamaan, ketegangan juga menjalar ke negara tetangga, Arab Saudi.

Angkatan Udara Riyadh dilaporkan berhasil mencegat dan menghancurkan tiga unit drone misterius yang kedapatan menyusup ke wilayah udara mereka dari arah Irak.

Pemerintah Arab Saudi langsung mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka tidak akan segan mengambil tindakan operasional militer demi menjaga kedaulatan wilayahnya.

Baca juga: Iran Ancam Ubah Teluk Oman Jadi Kuburan bagi Kapal-kapal AS: Kita Sudah Bersabar sampai Sekarang

Saling Lempar Ancaman

Kebuntuan diplomasi damai diperparah dengan saling lempar ancaman antara AS dengan Iran.

Trump baru-baru ini melayangkan ancaman paling agresifnya terhadap rezim Teheran.

Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran untuk berkompromi sudah hampir habis.

Jika Iran tidak segera mengajukan proposal perdamaian yang lebih masuk akal, Washington tidak akan ragu untuk meluncurkan gelombang serangan militer yang jauh lebih destruktif.

"Waktu terus berjalan bagi Iran," ujar Trump.

"Jika mereka tidak datang membawa tawaran kesepakatan yang lebih baik, mereka akan dihantam dengan jauh lebih keras!" tegasnya.

Sementara itu, Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei membalas ancaman AS.

Rezaei memberikan pilihan mutlak kepada pemerintah Washington dalam menentukan arah hubungan bilateral kedua negara.

Dalam keterangan resminya yang dirilis oleh WANA News Agency, Rezaei menegaskan bahwa AS kini berada di persimpangan jalan.

Menurut Razaei, AS harus memilih antara berkompromi melalui jalur diplomatik resmi atau berhadapan langsung dengan kekuatan militer Iran.

"Amerika Serikat harus menerima syarat-syarat dari Republik Islam Iran dan tunduk kepada para diplomat kami."

"Jika tidak, Iran akan bernegosiasi dari posisi yang jauh lebih kuat, dan mereka terpaksa harus tunduk kepada rudal-rudal kami," tegas Rezaei.

Pernyataan ini mencerminkan sikap keras Teheran di tengah mandeknya proses negosiasi dan meningkatnya tekanan blokade serta ancaman keamanan di wilayah Teluk.

Pihak legislatif Iran menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa negara tersebut tidak akan melonggarkan ataupun membatalkan satu pun dari prasyarat mendasar yang telah mereka tetapkan di meja perundingan.

Rezaei juga menambahkan bahwa Teheran saat ini berada dalam posisi siap secara taktis dan strategi pertahanan.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved