Selasa, 19 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Putin Akan Temui Xi Jinping, Bahas Kerja Sama Strategis Rusia–China

Presiden Rusia Vladimir Putin akan menemui pemimpin China Xi Jinping untuk membahas kerjasama Rusia dan Tiongkok.

Tayang:
Editor: Nuryanti
Kremlin
PUTIN DAN JINPING - Foto diambil dari Kantor Kremlin memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bersama Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (kiri) pada parade militer untuk memperingati 80 tahun Kemenangan dalam Perang Patriotik Besar Uni Soviet pada 9 Mei 2025 di Lapangan Merah, Moskow. (Foto: Sergei Bobylev, RIA Novosti) . Putin akan menemui Xi Jinping untuk membahas kerjasama Rusia dan Tiongkok pada 19-20 Mei 2026. 

Menurutnya, militer Rusia tidak banyak mengalami kemajuan di medan perang, sementara sanksi Barat terus melemahkan ekonomi dan sumber daya mereka.

Ia juga menyebut Rusia kehilangan lebih banyak tentara dibanding jumlah rekrutan baru, sehingga mobilisasi besar bisa memicu ketidakpuasan dalam negeri.

Karena itu, ia menilai sanksi internasional perlu terus dilanjutkan.

Intelijen Eropa: Rusia Masih Bertahan dan Tidak Terburu-buru

Seorang pejabat intelijen Eropa lainnya menilai bahwa meskipun Rusia mendapat tekanan, hal itu belum cukup untuk mengubah strategi perang mereka.

Menurutnya, Rusia masih berusaha menguasai wilayah Donbas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.

Ia juga menilai kondisi politik dalam negeri Rusia masih stabil dan masyarakatnya tetap mendukung atau setidaknya tidak menentang pemerintah secara signifikan.

Karena itu, Rusia dianggap belum akan mengubah tujuan perangnya dalam waktu dekat.

Senator AS Kritik Pencabutan Sanksi Minyak Rusia oleh Trump

Sejumlah senator Partai Demokrat di Amerika Serikat mengkritik keputusan pemerintahan Donald Trump yang memperpanjang pencabutan sanksi terhadap minyak Rusia selama 30 hari.

Mereka menilai kebijakan itu seperti “hadiah” bagi Presiden Vladimir Putin karena bisa menambah pemasukan Rusia untuk membiayai perang di Ukraina.

Namun, sanksi dari Inggris dan Uni Eropa terhadap minyak Rusia tetap diberlakukan.

AS: Pengecualian Minyak Rusia untuk Stabilkan Pasar Energi

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa pengecualian sanksi ini bertujuan membantu menstabilkan pasar minyak dunia.

Kebijakan ini memungkinkan minyak Rusia yang sudah berada di laut sebelum tanggal tertentu tetap bisa dijual.

Pemerintah AS juga menyebut akan terus bekerja sama dengan negara-negara tersebut untuk memberikan lisensi khusus sesuai kebutuhan, terutama untuk membantu negara yang mengalami kekurangan energi.

Ini merupakan kali kedua Washington memberikan pengecualian sementara sejak kebijakan serupa pertama kali diberlakukan pada Maret lalu untuk menekan lonjakan harga minyak global.

Meski tidak berdampak besar dalam menurunkan harga minyak, kebijakan ini membantu sejumlah negara seperti India yang sebelumnya sangat bergantung pada minyak Rusia sebelum sanksi diperketat.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved