Iran Vs Amerika Memanas
Harga BBM Kenya Meroket Imbas Perang Iran, Demo Massal Lumpuhkan Kota hingga Tewaskan 4 Orang
Kenaikan tajam harga BBM di Kenya picu demo besar dan bentrokan maut setelah perang Iran mengguncang pasar minyak.
Namun kebijakan itu langsung memicu kemarahan publik karena biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok ikut melonjak drastis.
“Dulu kami membayar 100 hingga 150 shilling, sekarang 300 shilling. Hidup menjadi sangat sulit,” kata seorang warga Nairobi bernama Charles kepada Reuters.
Kota Lumpuh dan Warga Terlantar
Pemogokan nasional membuat ribuan warga terlantar di halte dan terminal.
Banyak kendaraan umum tidak beroperasi sejak pagi hari, sementara akses menuju pusat kota Nairobi sempat lumpuh total.
Baca juga: CENTCOM AS Akui Berlakukan Blokade, Selat Hormuz Dianggap Jadi Senjata Iran Ancam Kebebasan Navigasi
Seorang kondektur bus dari Tanzania mengatakan penumpang mereka terjebak di kota Kajiado karena jalan menuju Nairobi diblokade demonstran.
“Orang-orang sekarang terlantar dan frustrasi karena transportasi terganggu,” katanya kepada BBC.
Aksi mogok juga berdampak pada distribusi logistik dan bahan pangan.
Seorang pengemudi pengangkut bahan makanan di wilayah Taveta mengaku tidak bisa melakukan pengiriman akibat lumpuhnya jalur transportasi.
Pemerintah Dituding Manfaatkan Krisis
Di tengah kemarahan publik, tokoh oposisi Rigathi Gachagua menuding Presiden William Ruto dan kelompok bisnis di sekitarnya memanfaatkan krisis untuk meraup keuntungan dari kenaikan harga BBM.
Pemerintah membantah tuduhan tersebut dan mengeklaim aksi protes telah “dibajak aktor politik”.
“Penjarahan bisnis dan perusakan properti publik sama sekali tidak dapat menurunkan harga minyak,” kata Murkomen seperti dikutip media Kenya.
Kelompok HAM Kenya, Vocal Africa, mengecam tindakan aparat yang menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.
Mereka menilai penanganan aksi unjuk rasa kali ini memperlihatkan memburuknya situasi kebebasan sipil di Kenya.
Baca juga: AS Tak Mau Kompromi! Iran Dipaksa Penuhi 5 Tuntutan Baru, Uranium hingga Selat Hormuz Jadi Taruhan
Aksi protes besar di Kenya memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Juni 2024 lalu, sedikitnya 60 orang tewas setelah polisi menembaki demonstran yang menolak kenaikan pajak dan biaya hidup.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)