Rabu, 20 Mei 2026

India Siap Terima S-400 dari Rusia, Salah Satu Sistem Pertahanan Udara Terbaik di Dunia

India akan menerima skuadron keempat sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia pada Mei 2026 sebagai bagian dari kontrak pembelian lima skuadron.

Tayang:

Hal ini berarti aset musuh bernilai tinggi seperti pesawat peringatan dini udara, platform pengawasan, pesawat pembom strategis, dan sistem peperangan elektronik berpotensi dapat dilacak serta diserang dari jauh di dalam wilayah operasional yang dikuasai India.

Sistem ini juga memiliki kemampuan menangkal berbagai macam ancaman, bukan hanya berfokus pada satu profil misi.

Selain pesawat tempur, S-400 dilaporkan mampu menyerang rudal jelajah, rudal balistik, platform siluman, pesawat tanpa awak, dan amunisi berpemandu presisi.

Tidak seperti beberapa sistem pertahanan udara Barat yang memprioritaskan pencegatan rudal balistik, S-400 dirancang untuk beroperasi menghadapi berbagai kategori ancaman secara bersamaan.

Fleksibilitas ini membuatnya sangat menarik bagi India, yang menghadapi beragam tantangan udara di front barat dan utara.

Keunggulan utama lainnya terletak pada kemampuan jaringannya.

S-400 tidak beroperasi secara independen dalam kerangka militer India.

Sebaliknya, sistem ini menjadi bagian dari struktur pertahanan udara terintegrasi yang jauh lebih besar, yang menggabungkan sistem buatan dalam negeri dan impor ke dalam jaringan operasional bersama.

Negara-Negara yang Mengoperasikan S-400

RUDAL JARAK JAUH - Sistem pertahanan udara S-400 Triumf buatan Rusia. Turki dilaporkan akan memboyong sistem pelontar rudal jarak jauh ini ke Suriah guna melindungi pemerintahan baru negara itu dari serangan udara Israel.
RUDAL JARAK JAUH - Sistem pertahanan udara S-400 Triumf buatan Rusia. (DSA/Tangkap Layar)

Masih mengutip First Post, selain India, S-400 juga diimpor oleh sejumlah negara lain.

Meski demikian, Rusia tetap menjadi operator terbesar sistem S-400 dengan mempertahankan banyak resimen yang ditempatkan di seluruh wilayahnya.

Baterai S-400 Rusia juga telah banyak digunakan selama konflik yang berlangsung di Ukraina, di mana sistem tersebut dilaporkan berhasil melakukan intersepsi terhadap rudal balistik taktis ATACMS pasokan Barat pada akhir 2025.

China menjadi pelanggan asing pertama S-400 setelah menandatangani kontrak pada 2014.

Pengiriman ke Beijing dimulai pada 2018 dan sistem tersebut dilaporkan telah ditempatkan di sepanjang sektor pantai timur dan selatan, memperluas cakupan anti-akses China di wilayah seperti Selat Taiwan dan pulau-pulau sengketa di Laut China Timur.

Turki memperoleh S-400 (nama pelaporan NATO: SA-21 Growler) melalui perjanjian kontroversial yang ditandatangani pada 2017.

Pengiriman tersebut memicu ketegangan besar dengan Amerika Serikat dan sekutu NATO, yang akhirnya mengakibatkan Turki dikeluarkan dari program pesawat tempur siluman F-35 Amerika serta dikenai sanksi CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act).

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved