Konflik Rusia Vs Ukraina
Profil Oreshnik, Rudal Hipersonik Rusia yang Diduga Gempur Kyiv Minggu Ini
Saat memasuki fase terminal, rudal Oreshnik mampu melaju antara Mach 10 hingga Mach 11, atau setara dengan 12.300 hingga 13.475 km/jam.
Ringkasan Berita:
- Rusia kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik Oreshnik ke Kyiv pada Minggu (24/5/2026), yang mengakibatkan setidaknya dua orang tewas
- Oreshnik mampu melesat dengan kecepatan hingga Mach 10-11 (12.300–13.475 km/jam) dilengkapi dengan 36 sub-munisi (MIRV) yang mampu menembus bunker serta memiliki daya hancur setara serangan nuklir.
- Moskow menegaskan serangan ini merupakan balasan atas serangan drone Ukraina terhadap asrama di Starobilsk yang menewaskan 21 orang
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengumumkan bahwa Rusia kembali menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik dalam rangkaian serangan massal drone dan rudal yang menghantam Kyiv pada Minggu dini hari ini (24/5/2026).
Serangan tersebut juga menandai momen kali ketiga bagi penggunaan rudal tersebut dalam konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini.
Melansir dari Reuters, pemerintah Ukraina sendiri mengklaim serangan rudal tersebut mengakibatkan sedikitnya dua orang tewas.
Gelombang serangan udara yang masif ini tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga merusak berbagai fasilitas sipil di ibu kota Ukraina, termasuk area di dekat kantor pemerintahan, gedung apartemen, sekolah, hingga pasar tradisional.
Rudal Oreshnik sendiri dilaporkan menghantam wilayah Bila Tserkva di kawasan Kyiv.
Mengenal Rudal Hipersonik Oreshnik
Penggunaan Oreshnik dalam serangan dini hari ini menjadi sorotan mengingat rudal tersebut termasuk salah satu teknologi terbaru yang diperkenalkan Rusia dalam konflik melawan Ukraina selama 4 tahun terakhir.
Oreshnik, yang dalam bahasa Rusia berarti pohon kemiri, merupakan rudal balistik jarak menengah (IRBM) yang dirancang untuk membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.
Rudal Oreshnik sendiri pertama kali digunakan dalam serangan di Dnipro pada November 2024 lalu.
Adapun serangan di Kyiv pada Minggu dini hari ini adalah pemakaian Oreshnik untuk ketigakalinya menyusul serangan serupa di wilayah Lviv pada Januari 2026 lalu.
Oreshnik sendiri menjadi sorotan dunia karena dikenal memiliki kecepatan ekstrem.
Saat memasuki fase terminal, rudal ini mampu melaju antara Mach 10 hingga Mach 11, atau setara dengan 12.300 hingga 13.475 km/jam.
Kecepatan hipersonik yang melampaui batas zona standar ini membuat Oreshnik secara teknis mustahil dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Waktu respons yang dibutuhkan sistem pertahanan untuk mendeteksi, mengunci target, hingga meluncurkan interseptor membutuhkan waktu menit, sementara Oreshnik mampu menutup jarak target dalam hitungan detik.
Selain kecepatan, Oreshnik memiliki mekanisme peluncuran yang unik.
Berbeda dengan rudal lain yang menggunakan roket pendorong di titik luncur dan menghasilkan jejak panas besar, Oreshnik dilontarkan dari kendaraan Transporter, Erector Launcher (TEL) menggunakan gas bertekanan.
Metode ini meminimalkan jejak panas, sehingga menyulitkan lawan untuk menghitung momen dan lokasi peluncuran secara presisi.
Presisi Tinggi dan Daya Hancur yang Mematikan
Tidak seperti rudal balistik konvensional yang mengikuti lintasan parabola standar yang dapat diprediksi, Oreshnik memiliki jalur terbang "parabola miring" dengan puncak tinggi dan sisi turun yang curam.
Rudal ini tetap memiliki tenaga dorong sepanjang lintasan terbangnya, yang memungkinkannya bermanuver layaknya meteorit.
Dalam fase terminal, rudal ini melepaskan Post Boost Vehicle (PBV) atau yang dikenal sebagai "Bus".
Komponen ini dikonfigurasi dengan 6 hulu ledak Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle (MIRV), di mana masing-masing hulu ledak dapat dipecah lagi menjadi enam sub-munisi, sehingga total terdapat 36 proyektil yang mampu menyasar target berbeda secara simultan.
Bahkan tanpa hulu ledak bahan peledak, energi kinetik dari satu unit MIRV seberat 1,3 ton yang meluncur pada kecepatan Mach 10-11 diklaim memiliki daya hancur setara dengan serangan nuklir.
Sistem pemandu yang didukung oleh GLONASS dan GPS memastikan rudal ini mampu menembus bunker bawah tanah hingga kedalaman empat lantai dengan presisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kronologi dan Dampak Serangan Udara
Terkait serangan Rusia di akhir pekan ini, Angkatan Udara Ukraina mencatat bahwa Rusia meluncurkan sekitar 600 drone serang serta 90 rudal yang terdiri dari varian udara, laut, dan darat dalam operasi gabungan tersebut.
Meskipun sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menghancurkan atau mengganggu 549 drone serta 55 rudal, belasan serangan Rusia dilaporkan gagal dibendung sehingga dampak kerusakan di lapangan tetap meluas.
Sepanjang malam, sirene serangan udara meraung tanpa henti sementara ledakan kuat mengguncang pusat kota.
Sedikitnya 40 lokasi di berbagai distrik Kyiv tercatat mengalami kerusakan, termasuk sebuah gedung apartemen lima lantai di distrik Shevchenko yang terbakar hingga menewaskan seorang warga.
Sekolah, gudang, dan berbagai bangunan sipil lainnya pun turut hancur.
Warga setempat menggambarkan malam tersebut sebagai pengalaman mengerikan yang belum pernah terjadi selama perang berlangsung, dengan banyak penduduk kehilangan tempat tinggal serta mata pencaharian mereka akibat ledakan dahsyat tersebut.
Klaim Rusia Terkait Serangan di Kyiv
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa serangan di Kyiv ditujukan pada fasilitas komando militer, pangkalan udara, serta pusat industri militer Ukraina.
Moskow mengeklaim aksi ini merupakan bentuk balasan atas serangan Ukraina terhadap fasilitas sipil di wilayah Rusia, khususnya setelah serangan drone Ukraina terhadap asrama perguruan tinggi di Starobilsk yang menewaskan 21 orang dan melukai 42 lainnya.
Pihak Rusia juga melaporkan bahwa mereka berhasil mencegat langkah balasan Ukraina yang mengarahkan puluhan drone ke wilayah Moskow dan Crimea.
Baca juga: Rusia Bombardir Kyiv dengan Ancaman Oreshnik, Zelensky Desak Dunia Segera Tekan Putin
Presiden Putin secara langsung memerintahkan pihak militer untuk menyiapkan langkah balasan segera setelah insiden di Starobilsk tersebut terjadi.
Di sisi lain, serangan Rusia ini kembali memicu kecaman internasional karena banyaknya korban dari kalangan warga sipil.
(Tribunnews.com/Bobby)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.