Jepang Dorong FOIP Baru, Indonesia dan Asean Dipandang Mitra Strategis Utama
Jepang memperkuat hubungan dengan ASEAN dan Indonesia lewat strategi FOIP baru di tengah ketegangan geopolitik global
Ringkasan Berita:
- Jepang diperkirakan memperkuat hubungan dengan ASEAN, khususnya Indonesia, di tengah dinamika geopolitik global dan perubahan tatanan internasional
- Konsep Free and Open Indo-Pacific (FOIP) kini diperluas hingga kerja sama ekonomi, industri, dan Global South
- Indonesia dinilai menjadi mitra strategis utama Jepang di kawasan Indo-Pasifik
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Jepang diperkirakan akan semakin memperkuat hubungan dengan negara-negara ASEAN, terutama Indonesia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, perang regional, serta perubahan besar dalam tatanan internasional saat ini.
Di kalangan pengamat kebijakan luar negeri Jepang, konsep Free and Open Indo-Pacific atau Indo-Pasifik Bebas dan Terbuka yang pertama kali diperkuat pada era almarhum mantan Perdana Menteri Shinzo Abe kini memasuki fase baru.
Pada masa pemerintahan Fumio Kishida, Jepang memperluas konsep FOIP bukan hanya dari sisi keamanan dan pertahanan, tetapi juga kerja sama ekonomi, industri, diplomasi, hingga pembangunan tatanan internasional baru bersama negara-negara Global South.
“ASEAN sekarang bukan hanya partner ekonomi Jepang, tetapi sudah menjadi partner strategis untuk menjaga stabilitas Indo-Pasifik,” ujar Prof Dr. Toru Yoshida, Fakultas Studi Kebijakan Universitas Doshisha khusus kepada Tribunnews.com.
Indonesia dipandang memiliki posisi sangat penting dalam strategi tersebut karena ukuran ekonomi, jumlah penduduk, posisi geopolitik, serta pengaruh diplomatiknya di ASEAN dan Global South.
Baca juga: Ratusan Muslim Laksanakan Salat Iduladha di Kyoto dan Tottori Jepang
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang juga mulai melonggarkan berbagai pembatasan terkait kerja sama pertahanan dan industri keamanan dengan negara-negara Asia Tenggara. Perubahan kebijakan itu terlihat dari meningkatnya pembicaraan mengenai transfer peralatan pertahanan, kerja sama industri militer, keamanan maritim, hingga penguatan supply chain regional.
Para pengamat menilai, langkah ini merupakan bagian dari upaya Jepang meningkatkan level kerja sama ASEAN-Jepang menuju dimensi yang lebih tinggi.
Namun demikian, sejumlah tantangan masih terlihat.
“Indonesia memiliki ukuran global yang sangat besar. Karena itu arah jangka panjang kerja sama Jepang-Indonesia kadang belum terlihat sepenuhnya jelas,” ujar Yoshida lagi.
Selain itu, Jepang juga menghadapi tantangan dalam membangun framework atau norma baru di Asia Timur yang dapat diterima bersama oleh seluruh negara kawasan.
Konsep FOIP versi baru diperkirakan akan lebih menekankan pendekatan diplomatik yang fleksibel, kerja sama jangka pendek yang realistis, namun tetap mengarah pada pembentukan tatanan internasional baru yang lebih stabil dan terbuka.
“Bukan hanya soal militer atau keamanan. Jepang juga melihat diplomasi, industrial capability, pembangunan ekonomi, dan kerja sama Global South sebagai alat penting,” kata Yoshida lebih lanjut
Dalam konteks itu, ASEAN dipandang bukan lagi sekadar kawasan tetangga, melainkan mitra utama Jepang untuk menghadapi perubahan global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Toru-Yoshida12.jpg)