Konflik Rusia Vs Ukraina
Ancaman Rusia Bikin Geger, AS Bantah Evakuasi Staf Kedubes di Kyiv
AS membantah telah mengevakuasi stafnya dari Kedutaan Besar AS di Kyiv, menyusul ancaman Rusia akan serangan besar di ibu kota Ukraina.
Sebelumnya, pada malam 23–24 Mei, Rusia dilaporkan melancarkan serangan gabungan berskala besar ke wilayah Ukraina dengan menggunakan sekitar 90 rudal dan 600 drone dari berbagai jenis, termasuk rudal balistik jarak menengah Oreshnik.
Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas di sejumlah wilayah, termasuk Kyiv, di mana puluhan bangunan tempat tinggal dilaporkan rusak atau hancur.
Per 25 Mei, total korban terus bertambah dengan laporan menyebutkan sedikitnya dua orang tewas dan lebih dari 90 orang mengalami luka-luka, termasuk anak-anak, seperti diberitakan Pravda.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia dan Ukraina mulai terjadi secara terbuka pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer ke sejumlah wilayah Ukraina. Namun, konflik ini sebenarnya sudah memiliki akar panjang sejak 1991, saat Uni Soviet runtuh dan Ukraina memutuskan menjadi negara merdeka serta tidak lagi berada di bawah pengaruh langsung Rusia.
Dalam perkembangannya, Ukraina semakin menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Negara tersebut juga menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dengan NATO. Hal ini kemudian dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasional serta pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.
Ketegangan makin meningkat pada 2014 setelah Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang dikenal dekat dengan Rusia. Setelah itu, Rusia mencaplok Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk. Sejak saat itu, konflik bersenjata terus berlangsung di wilayah timur Ukraina.
Berbagai upaya perdamaian pernah dilakukan melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman, tetapi kesepakatan tersebut tidak berjalan efektif karena kedua pihak saling menuduh melanggar isi perjanjian.
Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin kemudian mengumumkan dimulainya “operasi militer khusus” di Ukraina. Rusia menyebut langkah itu sebagai upaya melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO, sementara Ukraina dan negara Barat menilainya sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara.
Sejak perang berlangsung, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa memberikan dukungan militer, ekonomi, dan kemanusiaan kepada Ukraina. Sebaliknya, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang berdampak pada ekonomi dan sektor energinya.
Konflik ini juga membawa dampak luas bagi dunia, termasuk krisis energi, gangguan pasokan pangan global, dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Hingga saat ini, perang masih berlanjut meskipun berbagai upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencapai perdamaian.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/STAF-KEDUBES-AS-3453434.jpg)