Konflik Rusia Vs Ukraina
Kyiv Dihujani 600 Drone dan Rudal Oreshnik, UE Tuduh Rusia Bermain-main dengan Senjata Nuklir
Rusia melancarkan serangan udara terbesar ke Kyiv dalam empat tahun terakhir menggunakan 600 drone dan 90 rudal, termasuk rudal hipersonik
Ringkasan Berita:
- Rusia melancarkan serangan udara terbesar ke Kyiv dalam empat tahun terakhir menggunakan 600 drone dan 90 rudal, termasuk rudal hipersonik berkemampuan nuklir Oreshnik
- Serangan ini menewaskan empat orang dan merusak puluhan lokasi di ibu kota Ukraina.
- Uni Eropa mengecam penggunaan rudal Oreshnik sebagai "permainan nuklir yang sembrono", sementara Rusia mengklaim serangan itu sebagai balasan atas serangan drone Ukraina yang menewaskan 21 orang di asrama mahasiswa — tuduhan yang dibantah Kyiv.
TRIBUNNEWS.COM - Rusia melancarkan salah satu pengeboman terbesar terhadap ibu kota Ukraina sejak awal invasinya lebih dari empat tahun lalu, menewaskan setidaknya empat orang dan merusak sekolah serta gedung-gedung permukiman dalam semalam pada Sabtu.
Mengutip TIME, serangan berjam-jam itu mencakup peluncuran rudal balistik canggih Oreshnik — yang mampu membawa hulu ledak nuklir — ke Bila Tserkva, kota berpenduduk 200.000 jiwa yang terletak sekitar 80 kilometer di selatan Kyiv.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, serangan tersebut melibatkan 600 drone tempur dan 90 rudal yang diluncurkan dari udara, laut, dan darat, sebagian di antaranya berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan di Telegram bahwa beberapa sekolah dan gedung permukiman terkena serangan, dan tiga rudal diluncurkan ke arah fasilitas air bersih. Layanan darurat mencatat 50 lokasi di beberapa distrik ibu kota mengalami kerusakan.
"Mereka melancarkan perang semata-mata terhadap rakyat kami — terhadap ingatan kami, sejarah kami, dan segala sesuatu yang membentuk kehidupan manusia yang normal," tulis Zelensky di X pada Minggu. "Penting bagi Rusia untuk memahami bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas semua kejahatan ini."
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyatakan di Telegram pada Minggu bahwa petugas penyelamat sedang membantu warga dan membersihkan puing-puing. "Ini adalah malam yang mengerikan bagi Kyiv…" katanya dari lokasi serangan. Klitschko membenarkan bahwa dua orang tewas di kota tersebut, sementara pejabat di wilayah sekitarnya mengonfirmasi dua kematian lagi.
Baca juga: Rusia Kembali Gunakan Rudal Oreshnik ke Ukraina, Seberapa Mematikan Senjata Ini?
UE Tuduh Rusia Bermain-main dengan Senjata Nuklir
Kaja Kallas, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, menyebut penggunaan rudal Oreshnik sebagai "taktik menakut-nakuti secara politik dan permainan nuklir yang sembrono." Ini adalah ketiga kalinya Oreshnik digunakan dalam konflik ini: pertama di Dnipro pada November 2024, lalu kembali digunakan awal tahun ini di wilayah Lviv. Rudal ini merupakan rudal hipersonik berkemampuan nuklir berjangkauan menengah yang dapat menghantam sasaran hingga jarak hampir 5.600 kilometer.
Kementerian Pertahanan Rusia mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut dan membenarkan penggunaan rudal Oreshnik, menyebut langkah itu sebagai pembalasan atas serangan Ukraina terhadap "fasilitas sipil di wilayah Rusia."
Rusia menuduh Ukraina melakukan serangan drone mematikan pada Jumat yang menghantam asrama mahasiswa di Starobilsk, kota yang dikuasai Rusia di wilayah Luhansk, Ukraina, menewaskan 21 orang dan melukai 42 lainnya.
Ukraina membantah serangan tersebut, menyatakan telah menyerang unit komando drone elit di wilayah itu. Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Ukraina Andrii Melnyk menyatakan bahwa Ukraina "hanya menargetkan mesin perang Rusia" dalam serangan Jumat itu.
Kesulitan Menembak Jatuh Rudal
Angkatan Pertahanan Udara Ukraina mengklaim pada Minggu bahwa mereka berhasil menjam 549 drone dan 55 rudal, sementara sekitar 19 rudal gagal mencapai sasaran. "Sayangnya, tidak semua rudal balistik berhasil dicegat — jumlah hantaman terbanyak terjadi di Kyiv," kata Zelensky dalam unggahan Telegram-nya.
Ukraina saat ini mengalami kekurangan rudal pertahanan udara yang biasa digunakan untuk menembak jatuh rudal-rudal Rusia. Rudal pertahanan udara Patriot buatan AS terbukti sangat efektif melawan serangan rudal Rusia, namun persediaan Kyiv menipis karena AS dan sekutu-sekutu Teluknya menghabiskan stok untuk mempertahankan diri dari serangan rudal dan drone Iran. Zelensky menyatakan bahwa setiap rudal Patriot yang diluncurkan di tempat lain di dunia berdampak pada pasokan Ukraina sendiri, dan menyerukan agar Eropa berupaya mencapai kemandirian pertahanan.
"Saya percaya Eropa harus mampu memproduksi sendiri semua yang dibutuhkan untuk bertahan dari segala serangan balistik dan semua senjata lainnya," katanya kepada para pemimpin Eropa pada Mei lalu.
Penggunaan rudal Oreshnik menimbulkan masalah yang jauh lebih rumit bagi Ukraina: negara itu tidak memiliki rudal untuk menghadapinya, dan bahkan sistem Patriot pun tidak dirancang untuk menangkal kecepatan rudal tersebut.