Iran Vs Amerika Memanas
Bantah Drone MQ-9 Reaper Ditembak Jatuh Iran, Amerika Habiskan Rp 16,3 Triliun Per Hari Perang
AS menghabiskan sekitar US$11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama operasi di Timur Tengah.
Dalam periode 89 hari terakhir, harga bensin di AS disebut naik 48,4 persen, sementara harga solar melonjak 51,3 persen.
Kenaikan itu diperkirakan membuat setiap rumah tangga Amerika menanggung tambahan biaya rata-rata sekitar US$378.
Lonjakan harga energi ini berkaitan erat dengan ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dunia.
Ketidakstabilan di kawasan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global dan berdampak pada harga bahan bakar di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.
Bantah Drone Canggih MQ-9 Reaper Ditembak Jatuh
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, ketegangan militer Washington dan Teheran juga terus memanas.
Televisi pemerintah Iran sebelumnya mengutip pejabat lokal yang mengklaim sebuah pesawat Amerika ditembak jatuh di wilayah Jam, Provinsi Bushehr, Iran selatan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam pernyataannya, menyebut sistem pertahanan udara Iran berhasil menembak jatuh drone MQ-9 Reaper milik AS.
Iran juga mengklaim telah melepaskan tembakan ke arah pesawat pengintai RQ-4 dan jet tempur siluman F-35 hingga keduanya dipaksa mundur dari wilayah udara Iran.
Namun, pihak AS segera membantah laporan tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan tidak ada pesawat mereka yang ditembak jatuh dan seluruh aset udara di kawasan masih beroperasi normal.
Saling klaim ini muncul hanya beberapa jam setelah militer AS mengumumkan serangan terhadap sejumlah target Iran dan pencegatan drone yang dianggap mengancam pasukan Amerika serta jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Biaya Super-Mahal
Meningkatnya biaya operasi menunjukkan bahwa konflik AS-Iran bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga pertarungan ekonomi yang sangat mahal bagi kedua pihak.
Bagi Washington, tekanan terbesar bukan hanya biaya perang secara langsung, melainkan dampaknya terhadap harga energi dan inflasi domestik.
Jika konflik berkepanjangan, pemerintah AS berisiko menghadapi kritik publik karena beban ekonomi yang semakin terasa di dalam negeri.
Di sisi lain, Iran memanfaatkan ketegangan di Selat Hormuz sebagai alat tekanan strategis.
Kawasan itu menjadi titik sensitif dunia karena gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga minyak global dan memengaruhi ekonomi internasional secara luas.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah saat ini tidak lagi berdampak regional semata, melainkan langsung memengaruhi stabilitas ekonomi global, harga energi, dan kondisi politik domestik negara-negara besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tentara-Amerika-Serikat-234.jpg)