Konflik Rusia Vs Ukraina
Ukraina Siaga Penuh, Zelenskyy: Serangan Besar Rusia Bisa Datang dalam Waktu Dekat
Presiden Ukraina Zelenskyy sebut informasi intelijen yang mengungkap kemungkinan serangan besar Rusia pada 2 Juni malam waktu setempat.
Menurut Sobyanin, delapan drone berhasil ditembak jatuh beberapa jam sebelum tengah malam.
Kharkiv Terancam, Ribuan Warga Diperintahkan Mengungsi dari Daerah Perbatasan
Pemerintah wilayah Kharkiv di timur Ukraina mengeluarkan perintah evakuasi wajib bagi ribuan warga yang tinggal di dekat perbatasan Rusia.
Keputusan ini diambil karena meningkatnya intensitas serangan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Gubernur Kharkiv, Oleg Synegubov, mengatakan situasi keamanan semakin memburuk sehingga evakuasi perlu diperluas.
"Dengan mempertimbangkan situasi keamanan dan serangan musuh yang terus berlangsung, kami memperluas zona evakuasi wajib," kata Synegubov.
Lebih dari 7.000 warga terdampak oleh kebijakan tersebut.
Perdana Menteri Baru Hungaria Siap Bertemu Zelenskyy, Hubungan Dua Negara Berpotensi Membaik
Perdana Menteri baru Hungaria, Péter Magyar, menyatakan kesiapannya untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy guna membuka lembaran baru hubungan kedua negara.
Pernyataan tersebut muncul setelah Magyar menggantikan pendahulunya yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow.
Magyar mengatakan pembicaraan teknis terkait hak-hak minoritas Hungaria di Ukraina menunjukkan perkembangan yang positif.
"Negosiasi sejauh ini berjalan sangat menggembirakan, dan kami berharap dapat diselesaikan pada tingkat teknis minggu ini," ujar Magyar.
Jika pertemuan tersebut terlaksana, hubungan Hungaria dan Ukraina berpotensi memasuki fase yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan operasi militer skala besar ke sejumlah wilayah Ukraina. Namun, akar permasalahan yang memicu perang tersebut sebenarnya telah berkembang jauh sebelumnya, sejak Ukraina memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991.
Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina mulai menentukan arah politik dan kebijakan luar negerinya sendiri. Seiring berjalannya waktu, negara itu semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara anggota Uni Eropa.
Ukraina juga menunjukkan minat untuk bergabung dengan NATO, sebuah aliansi pertahanan yang dipimpin oleh negara-negara Barat. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.
Hubungan kedua negara semakin memanas pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan di Ukraina. Peristiwa itu berujung pada lengsernya Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Moskow.
Tidak lama setelah pergantian pemerintahan tersebut, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea. Pada saat yang sama, kelompok separatis yang didukung Rusia mulai melakukan perlawanan di wilayah Donetsk dan Luhansk, kawasan yang dikenal sebagai Donbas. Konflik bersenjata di wilayah itu kemudian berlangsung selama bertahun-tahun.
Sejumlah upaya perdamaian sempat ditempuh melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, implementasi kesepakatan tersebut berjalan sulit karena masing-masing pihak saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap isi perjanjian.
Puncaknya terjadi pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan dimulainya operasi militer di Ukraina. Rusia menyatakan langkah itu dilakukan untuk melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina serta mencegah perluasan NATO ke dekat perbatasannya. Sebaliknya, Ukraina dan banyak negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara Ukraina.
Sejak perang pecah, Ukraina menerima dukungan militer, ekonomi, dan bantuan kemanusiaan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sejumlah negara sekutu lainnya. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menyasar sektor ekonomi, keuangan, teknologi, hingga energi.
Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh kedua negara yang terlibat. Konflik ini turut memengaruhi stabilitas global, termasuk terganggunya pasokan energi dan pangan dunia, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Hingga saat ini, pertempuran masih terus berlangsung meskipun berbagai upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata dan perdamaian jangka panjang tetap dilakukan.
Sementara itu, proses negosiasi yang sebelumnya mendapat dorongan dari Amerika Serikat mengalami perlambatan. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi situasi tersebut adalah meningkatnya fokus Washington terhadap konflik lain di Timur Tengah, khususnya setelah keterlibatan militer AS dalam ketegangan dengan Iran, yang juga masih belum menemukan penyelesaian akhir.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ukrain4-23423r4werr.jpg)