Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Iran Sedot Stok Rudal Patriot, Rusia Manfaatkan Celah Pertahanan Ukraina
Perang Iran menguras stok rudal Patriot hingga sepertiga. Rusia manfaatkan celah itu untuk gempur Ukraina.
Ringkasan Berita:
- Perang berkepanjangan antara AS, Israel, dan Iran memicu krisis global rudal Patriot yang menjadi tulang punggung pertahanan udara Barat.
- Rusia kini memanfaatkan berkurangnya persediaan pencegat tersebut untuk meningkatkan intensitas serangan ke Ukraina, sementara NATO dan negara-negara Teluk juga mulai menghadapi risiko kekurangan stok.
- Para analis memperingatkan dunia memasuki "jendela kerentanan" yang dapat berlangsung hingga beberapa tahun ke depan.
TRIBUNNEWS.COM - Rusia disebut mulai memanfaatkan melemahnya persediaan rudal pencegat Barat untuk meningkatkan tekanan terhadap Ukraina.
Dilansir The Guardian, Kremlin melihat adanya celah pertahanan yang muncul akibat menipisnya stok sistem Patriot, senjata utama yang selama ini menjadi tameng Ukraina menghadapi rudal balistik Rusia.
Peringatan tersebut muncul setelah Moskow melancarkan salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai.
Dalam serangan terbaru, Rusia menembakkan 73 rudal dan hampir 700 drone ke berbagai wilayah Ukraina.
Gelombang serangan itu menyasar infrastruktur penting, jaringan energi, serta sejumlah fasilitas strategis yang selama ini menjadi target utama Kremlin.
Di tengah serangan yang terus meningkat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mendesak Washington agar segera mengirim tambahan rudal pencegat.
Permintaan itu bukan hal baru.
Namun, kali ini muncul ketika persediaan Patriot global sedang berada dalam tekanan terbesar selama bertahun-tahun.
Perang Iran Jadi Pemicu Krisis Global
Baca juga: Bekingi Israel Habis-habisan, Stok Rudal Pencegat THAAD Milik AS Kini Kritis Tersisa Separuh
Akar persoalan bermula dari konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Perang tersebut memaksa AS dan sekutunya menembakkan ribuan rudal pencegat untuk menghadang serangan balistik Iran di kawasan Timur Tengah.
Menurut sejumlah estimasi yang dikutip dari The Guardian, konflik tersebut telah menghabiskan hampir sepertiga stok rudal Patriot yang tersedia.
Negara-negara Teluk menjadi pengguna terbesar selama konflik berlangsung.
Mereka dilaporkan telah menembakkan lebih dari 1.100 rudal pencegat untuk menghadapi ancaman rudal Iran.
Ancaman itu bahkan belum sepenuhnya hilang.
Laporan terbaru menyebut Iran masih menembakkan dua rudal balistik ke arah Kuwait pada awal pekan ini.
Situasi tersebut membuat negara-negara yang bergantung pada Patriot harus bersaing memperebutkan pasokan yang semakin terbatas.
Patriot Jadi Senjata Paling Diburu
Patriot bukan sekadar sistem pertahanan udara biasa.
Sistem MIM-104 Patriot buatan Raytheon dan Lockheed Martin selama ini dianggap sebagai perlindungan paling efektif untuk menghadapi rudal balistik jarak jauh.
Baca juga: Ukraina Siaga Penuh, Zelenskyy: Serangan Besar Rusia Bisa Datang dalam Waktu Dekat
Berbeda dengan sistem pertahanan udara lain yang lebih cocok menghadapi drone atau rudal jelajah, Patriot dirancang untuk menghancurkan target berkecepatan tinggi yang terbang di ketinggian besar.
Karena kemampuan itulah Ukraina sangat bergantung pada Patriot untuk melindungi Kyiv dan kota-kota utama lainnya.
Setiap baterai Patriot memiliki nilai sekitar 1 miliar dolar AS.
Sementara satu rudal pencegatnya bernilai sekitar 3 juta dolar AS.
Biaya yang mahal membuat banyak negara selama bertahun-tahun hanya menyimpan stok terbatas karena tidak memperkirakan akan menghadapi perang besar berkepanjangan.
NATO Ikut Hadapi Risiko
Krisis ini tidak hanya menjadi masalah Ukraina.
Beberapa negara anggota NATO seperti Jerman, Belanda, Yunani, Spanyol, Polandia, dan Swedia juga mengoperasikan Patriot sebagai tulang punggung pertahanan udara mereka.
Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan situasi saat ini menciptakan apa yang disebut sebagai "window of vulnerability" atau jendela kerentanan.
"Kami tahu negara-negara Teluk telah menggunakan sebagian besar persediaan mereka. Akibatnya negara-negara yang membutuhkan sekarang harus bersaing memperebutkan stok yang terus menurun," ujarnya.
Cancian menilai masalah terbesar bukan hanya jumlah rudal yang telah ditembakkan.
Masalah utama adalah lambatnya proses penggantian persediaan yang sudah habis.
Produksi Tak Mampu Kejar Kebutuhan Perang
Lockheed Martin saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 600 rudal Patriot per tahun.
Jumlah itu dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Ukraina, negara-negara NATO, dan sekutu AS di Timur Tengah secara bersamaan.
Perusahaan memang telah mengumumkan rencana untuk melipatgandakan produksi.
Namun, para analis menilai peningkatan kapasitas tidak bisa dilakukan dalam hitungan bulan.
"Jika ingin meningkatkan kemampuan produksi, prosesnya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Karena itu kita kemungkinan akan menghadapi kekurangan pasokan selama dua hingga tiga tahun ke depan," kata Cancian.
Baca juga: Rusia Luncurkan 656 Drone dan 73 Rudal ke Ukraina, 9 Tewas dalam Serangan Terbesar Tahun Ini
Laporan audit CSIS yang dirilis pekan lalu bahkan menyebut waktu yang diperlukan untuk membangun kembali stok rudal menjadi salah satu kekhawatiran terbesar bagi militer AS dan sekutunya.
Ukraina Hadapi Ancaman yang Semakin Besar
Para pengamat menilai Rusia sudah memahami situasi tersebut.
Profesor Studi Strategis Universitas St Andrews, Phillips O'Brien, mengatakan peningkatan serangan Rusia kemungkinan dilakukan dengan asumsi bahwa Ukraina tidak memiliki cukup rudal Patriot untuk mencegat seluruh ancaman yang datang.
"Saya pikir peningkatan besar serangan terhadap jaringan listrik dan pemanas Ukraina dilakukan dengan pengetahuan bahwa Ukraina mengalami kekurangan Patriot yang serius," katanya.
Juru bicara Angkatan Udara Ukraina Yuri Ignat mengakui negaranya berada dalam posisi sulit.
"Jika kita berbicara tentang ancaman rudal balistik, selain Patriot saat ini tidak ada sistem lain di Ukraina yang mampu menembak jatuh rudal balistik," ujarnya.
"Karena itu kami menghadapi situasi yang sangat problematis terkait persediaan rudal."
Baca juga: Malam Mencekam di Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Kyiv, Dnipro, Kharkiv
Ketika Rusia terus mengancam akan meluncurkan serangan sistematis terhadap Kyiv dan pusat-pusat pemerintahan Ukraina, krisis Patriot kini tidak lagi sekadar persoalan logistik.
Krisis tersebut telah berubah menjadi faktor strategis yang berpotensi menentukan keseimbangan perang dalam beberapa bulan mendatang.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.