Konflik Rusia Vs Ukraina
Merasa Dicueki Tim Negosiasi AS, Zelenskyy: Iran Nomor 1, Ukraina Cuma Nomor 2
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan kekecewaannya karena tim negosiasi AS tak segera mengunjungi Ukraina untuk lanjutkan negosiasi.
Di sisi lain, serangan Rusia ke wilayah Ukraina juga menimbulkan korban. Kota Kramatorsk menjadi sasaran artileri Rusia yang menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan melukai sebelas orang. Serangan juga terjadi di Kherson dan Dnipro, mengakibatkan korban luka, kerusakan bangunan, serta kebakaran besar.
Kepala wilayah Krimea yang ditunjuk Rusia, Sergey Aksyonov, mengatakan, "Serangan terhadap bangunan non-perumahan di Simferopol menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai tujuh lainnya."
Sementara itu Gubernur Donetsk, Vadym Filashkin, menyatakan, "Sebelas orang terluka dalam serangan siang hari Rusia terhadap bangunan tempat tinggal di Kramatorsk."
Di Kherson, Gubernur setempat Oleksandr Prokudin, melaporkan satu orang tewas setelah serangan pesawat tak berawak menghancurkan 36 apartemen di sebuah gedung perumahan.
Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan, "Pasukan Rusia menyerang area penyimpanan makanan dan depot pos dengan pesawat tak berawak dan rudal."
Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Namun, latar belakang perselisihan kedua negara sebenarnya telah berlangsung sejak Ukraina memisahkan diri dari Uni Soviet dan menjadi negara merdeka pada tahun 1991.
Setelah merdeka, Ukraina mulai menjalin hubungan yang semakin erat dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Selain itu, keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO menimbulkan kekhawatiran di pihak Rusia karena dianggap dapat mengancam keamanan serta mengurangi pengaruh Moskow di kawasan Eropa Timur.
Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2014 setelah terjadinya Revolusi Maidan yang menyebabkan Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yanukovych, turun dari jabatannya. Yanukovych dikenal memiliki kedekatan dengan Rusia. Tidak lama kemudian, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata juga pecah di wilayah Donetsk dan Luhansk yang berada di kawasan Donbas dengan melibatkan kelompok separatis pro-Rusia.
Berbagai upaya perdamaian pernah dilakukan melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Akan tetapi, pelaksanaan kesepakatan tersebut menghadapi banyak kendala karena kedua pihak saling menuding telah melanggar isi perjanjian.
Situasi memuncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan operasi militer khusus di Ukraina. Rusia menyebut langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina serta mencegah ekspansi NATO ke wilayah yang berdekatan dengan perbatasannya. Di sisi lain, Ukraina bersama banyak negara Barat menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara Ukraina.
Sejak perang dimulai, Ukraina memperoleh bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan dari Amerika Serikat, Uni Eropa, serta negara-negara sekutunya. Sementara itu, Rusia dikenai berbagai sanksi internasional yang berdampak pada sektor ekonomi, perdagangan, teknologi, dan energi.
Dampak konflik tersebut meluas ke berbagai belahan dunia. Perang Rusia-Ukraina turut memengaruhi pasokan pangan dan energi global, sekaligus meningkatkan ketegangan geopolitik internasional.
Hingga kini, pertempuran masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi dan negosiasi perdamaian terus dilakukan. Namun, proses perundingan yang sebelumnya mendapat dukungan kuat dari Amerika Serikat mengalami hambatan, salah satunya karena perhatian Washington juga tertuju pada konflik lain di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/trruump-Z3l3nskyy-w454w532r534e.jpg)