Konflik China dan AS
Pentagon Siapkan 300.000 Drone Kamikaze, AS Ubah Strategi Perang Modern Hadapi China dan Rusia
Departemen Pertahanan AS- berencana mengembangkan hingga 300.000 drone kamikaze berbiaya rendah untuk memperkuat kemampuan tempur
Pentagon Siapkan 300.000 Drone Kamikaze, AS Ubah Strategi Perang Modern Hadapi China dan Rusia
Ringkasan Berita:
- Pentagon menjalankan program Drone Dominance untuk memproduksi hingga 300.000 drone kamikaze berbiaya rendah.
- Program ini lahir dari pelajaran perang di Ukraina dan Timur Tengah, di mana drone murah terbukti efektif menghancurkan target bernilai tinggi.
- Amerika ingin memperkuat kesiapan menghadapi China, Rusia, dan Iran sekaligus mengurangi ketergantungan pada sistem senjata mahal.
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) disebut-sebut tengah melakukan perubahan besar dalam strategi militernya.
Melalui program yang disebut Drone Dominance, Pentagon -sebutan untuk Departemen Pertahanan AS- berencana mengembangkan hingga 300.000 drone kamikaze berbiaya rendah untuk memperkuat kemampuan tempur menghadapi potensi ancaman dari China, Rusia, dan Iran.
Baca juga: Selamat Dua Kali, Kisah Pilot F-15 AS Ditembak Jatuh Dua Kali dalam 33 Hari Perang Iran-Amerika
Langkah ini, merujuk ulasan sejumlah ulasan analis militer, menunjukkan perubahan cara pandang militer Amerika terhadap peperangan modern.
"Jika sebelumnya kekuatan militer banyak bertumpu pada jet tempur canggih, rudal presisi, dan platform berteknologi tinggi yang mahal, kini perhatian mulai bergeser ke sistem tanpa awak yang lebih murah, mudah diproduksi, dan dapat digunakan dalam jumlah besar," tulis laporan DSA, dikutip Kamis (4/6/2026).
Pelajaran dari Ukraina dan Timur Tengah
Perubahan strategi tersebut tidak muncul begitu saja.
Pentagon banyak mengambil pelajaran dari perang di Ukraina dan berbagai konflik di Timur Tengah.
Dalam perang Ukraina, drone First Person View (FPV) dan drone kamikaze murah terbukti mampu menghancurkan tank, artileri, radar, hingga pusat logistik dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan rudal atau pesawat tempur.
Sementara itu, serangan drone yang digunakan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah menunjukkan bagaimana sistem murah dapat mengancam target bernilai tinggi dan memaksa lawan mengeluarkan biaya besar untuk mempertahankan diri.
Menurut sejumlah pejabat pertahanan AS, pengalaman tersebut membuktikan bahwa peperangan masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas senjata, tetapi juga oleh jumlah dan kecepatan produksi.
Target Produksi Ratusan Ribu Unit
Pentagon khawatir Amerika tertinggal dalam produksi drone murah dibandingkan negara lain.
Ukraina disebut mampu memproduksi hampir empat juta drone tempur setiap tahun, sementara kapasitas produksi Amerika saat ini masih jauh lebih kecil.
Tahap awal program Drone Dominance akan melibatkan sekitar 12 hingga 25 perusahaan yang bersaing memproduksi 30.000 drone.
Nilai kontrak awal diperkirakan mencapai 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,4 triliun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Drone-Amerika-Low-Cost-Uncrewed-Combat-Attack-System-LUCAS.jpg)