Kamis, 4 Juni 2026

Konflik China dan AS

Pentagon Siapkan 300.000 Drone Kamikaze, AS Ubah Strategi Perang Modern Hadapi China dan Rusia

Departemen Pertahanan AS- berencana mengembangkan hingga 300.000 drone kamikaze berbiaya rendah untuk memperkuat kemampuan tempur

Tayang:
HO/IST/Tangkap Layar/DSA
UBAH DOKTRIN - Dron kamikaze LUCAS (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System) yang dibuat Amerika Serikat (AS). Washington mengubah strategi dan doktrin perang militer dengan memproduksi persenjataan yang lebih murah dan efisien. 

Pentagon memperkirakan perang masa depan di kawasan tersebut dapat melibatkan penggunaan drone otonom dalam jumlah besar untuk menyerang kapal perang, pangkalan militer, jalur logistik, hingga target strategis lainnya.

Drone murah juga dianggap efektif untuk mengganggu strategi anti-access/area denial (A2/AD) yang selama ini dikembangkan China guna membatasi pergerakan pasukan AS di kawasan.

Dalam berbagai simulasi militer, kawanan drone dipandang mampu meningkatkan daya tahan operasi sekaligus memperluas kemampuan pengawasan dan serangan tanpa harus terlalu bergantung pada platform berawak yang mahal.

Strategi Mass Drone Punya Kelemahan

Meski menjanjikan, penggunaan drone dalam skala besar juga memiliki sejumlah kelemahan.

Drone masih rentan terhadap gangguan elektronik, serangan siber, pemblokiran sinyal, hingga sistem anti-drone yang terus berkembang.

Selain itu, meningkatnya produksi drone murah dapat memicu perlombaan senjata baru dan memperluas penyebaran teknologi militer ke kelompok non-negara.

Para analis juga memperingatkan bahwa penggunaan sistem otonom secara masif berpotensi mengubah pola konflik global dan menimbulkan tantangan baru terkait keamanan internasional.

Era Baru Peperangan

Program Drone Dominance AS menunjukkan bahwa persaingan militer global kini tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memproduksi sistem senjata dalam jumlah besar, cepat, dan murah.

Bagi Pentagon, perang masa depan kemungkinan tidak lagi didominasi oleh sejumlah kecil platform canggih, melainkan oleh ribuan bahkan ratusan ribu sistem otonom yang dapat beroperasi secara bersamaan di darat, laut, dan udara.

Jika berhasil dijalankan, program ini berpotensi menjadi salah satu perubahan terbesar dalam doktrin militer Amerika sejak era perang presisi yang berkembang setelah Perang Teluk pada 1991.

 

 

(oln/dsa/*)

Sesuai Minatmu
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved