Iran Vs Amerika Memanas
Trump: Iran Boleh Memperkaya Uranium, tapi Bukan untuk Militer
Presiden AS Donald Trump mengatakan AS boleh memperkaya uranium tapi bukan untuk tujuan militer, setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan.
Menurutnya, sistem pengawasan tersebut akan memungkinkan komunitas internasional memverifikasi bahwa Iran tidak menjalankan aktivitas nuklir yang melanggar kesepakatan.
Kesepakatan ini menandai berakhirnya perdebatan panjang mengenai hak Iran untuk memperkaya uranium.
Selama tiga bulan terakhir negosiasi yang dipimpin utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, Iran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah menyerahkan hak untuk melakukan pengayaan uranium.
Pada tahap awal pembicaraan, Trump sempat mengusulkan penghentian total aktivitas pengayaan uranium Iran selama 20 tahun.
Namun usulan tersebut mendapat penolakan dari Teheran. Seiring berjalannya negosiasi, kedua pihak akhirnya mencapai kompromi dengan mengizinkan Iran tetap memperkaya uranium dalam batas yang ketat dan hanya untuk kepentingan damai.
Meski disambut positif oleh sejumlah negara Eropa dan Turki, kesepakatan tersebut menuai kritik dari sejumlah pejabat Israel yang khawatir perjanjian itu tidak cukup kuat untuk menghentikan ambisi nuklir Iran dalam jangka panjang.
Namun Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan cara terbaik untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir sekaligus mengurangi risiko konflik baru di Timur Tengah.
Baca juga: Usai Sepakat Damai, Trump Ultimatum Iran dan Ancam Bombardir Teheran Jika Negosiasi Nuklir Mandek
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran.
Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran tengah mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kebutuhan energi dan penelitian sipil.
Konflik semakin memanas ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada tahap awal perang. Sejumlah laporan menyebut posisi tersebut kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan yang diterimanya, Iran meluncurkan serangan ke berbagai target di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Teheran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Setelah hampir 40 hari pertempuran berlangsung, ketegangan mulai mereda berkat upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan. Proses diplomasi tersebut menghasilkan gencatan senjata sementara dan membuka jalan bagi perundingan yang lebih luas untuk mengakhiri konflik.
Puncaknya, pada 15 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai sebuah nota kesepahaman atau kerangka perdamaian.
Kesepakatan ini belum menjadi perjanjian final, tetapi menjadi dasar bagi kedua negara untuk melanjutkan negosiasi selama 60 hari ke depan guna menyelesaikan berbagai isu yang masih menjadi perdebatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TRUUMP-345345.jpg)