Kaleidoskop 2017

Ganasnya Difteri Sepanjang 2017, Kasusnya Terbesar di Dunia

Penyebaran wabah difteri sudah sedemikian meluas secara cepat di Indonesia.Jumlahnya terbesar di dunia.

Ganasnya Difteri Sepanjang 2017, Kasusnya Terbesar di Dunia
WARTA KOTA/WARTA KOTA/Nur Ichsan
Mengantisipasi merebaknya penyebaran penyakit difteri, yang telah banyak meminta korban jiwa seperti yang terjadi di Surabaya dan Tangerang, Puskesmas Kecamatan Tambora bersama kader posyandu Kelurahan Duri Selatan, menggelar imunisasi difteri masal di wilayah itu, Rabu (13/12/2017). WARTA KOTA/Nur Ichsan 

Hal tersebut disampaikan oleh Humas kampus yang terletak di kawasan Ciputat, Tangerang itu.

Aufatul disebut sempat mendapatkan perawatan di RSDP, kota Serang, namun pada akhirnya nyawanya tidak tertolong.

Waspadai Difteri Menyebar Melalui Udara

Difteri mulai mewabah di Bali.
Difteri mulai mewabah di Bali. (Tribun Bali/Dwi S)

Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae itu menyebar melalui udara.

Bakteri tersebut tergolong berbahaya karena bisa menyerang saluran nafas sebelah atas, gejalanya pun meliputi demam tinggi, sakit tenggorokan, susah menelan, serta kesulitan bernafas.

Cara penularannya, anda harus mewaspadai percikan ludah dari batuk si penderita dan benda ataupun makanan yang telah terkontaminasi bakteri, karena saat bakteri itu masuk ke dalam tubuh maka toksin atau racun pun dilepas dan akan menyebar melalui darah.

Jika dibiarkan, maka racun ini akan menyebabkan kerusakan jaringan pada seluruh tubuh, terutama organ vital seperti jantung dan syaraf.

Bahkan dalam beberapa kasus, bakteri ini bisa menyebabkan kematian.

Penyebab Difteri

Meningkatnya penyebaran penyakit menular itu juga disebabkan faktor non-medis, yakni berasal dari kebiasaan masyarakat itu sendiri.

Saat ini masih banyak orangtua yang tidak tanggap dan enggan memberikan imunisasi DPT terhadap anak mereka, hanya karena takut pada efrk yang ditimbulkan, yakni suhu badan anak tersebut akan panas.

Selain itu, padatnya lingkungan tempat tinggal pun juga menjadi salah satu penyebab cepatmya pola penularan difteri.

Kemudian efek 'tidak percaya' terhadap vaksin, lantaran sebelumnya memang telah beredar pemberitaan adanya vaksin palsu beberapa waktu yang lalu.

Hal itu juga menjadi penyebab masyarakat memiliki pandangan yang berbeda, ketidakpercayaan terkait fungsi vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh anak mereka.

Walaupun kasus vaksin palsu sudah ditangani oleh Kementerian Kesehatan RI melalui cara vaksinasi ulang.

Faktor penyebab lainnya adalah rendahnya pendidikan orangtua si anak yang bisa saja mempengaruhi perilaku mereka.

Orangtua yang memiliki pendidikan rendah, cenderung kurang memiliki pengetahuan terkait pola hidup sehat, bersih, dan seberapa pentingnya pemberian imunisasi bagi anak-anak mereka.

Di sekolah pun, para guru juga wajib mewaspadai bakteri ini.

Para siswa juga bisa tertukar difteri di sekolah, hal tersebut karena kurangnya pola hidup sehat dan bersih yang ditanamkan di sekolah.

Kemudian anggapan 'haram' terhadap vaksin juga ternyata dipegang teguh oleh sebagian masyarakat.

Menurut mereka, vaksi bisa saja mengandung bahan yang haram, meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menegaskan bahwa vaksin tersebut halal, namun terkadang ada sebagian masyarakat tetap enggan untuk mempercayainya.

Lalu ada pula tipe masyarakat yang menganggap bahwa sistem imun telah ada sejak lahir dalam tubuh tiap individu, sehingga penggunaan vaksin tidak terlalu dibutuhkan.

Baca: Derita Sobari Dikucilkan Warga Setelah Cucunya Meninggal karena Difteri

Peran Serum anti-difteri dan antibiotik

Serum anti-difteri dan antibiotik harus diberikan secara bersamaan untuk mengobati pasien yang terkena difteri.

Keduanya harus diberikan karena serum anti-difteri tidak bisa bekerja sendiri untuk mengeliminasi bakteri penyebab penyakit mematikan itu.

Begitu pula antibiotik yang tidak bisa menggantikan peran serum yang memiliki fungsi untuk menetralisir racun difteri.

Antibiotik
Antibiotik (ISTIMEWA)

Perlu diketahui, serum anti-difteri hanya bisa menetralisir racun dalam tubuh penderita saja.

Sehingga penting bagi masyarakat untuk segera mendapatkan serum anti-difteri dan antibiotik sesaat setelah gejala difteri ditemukan pada tubuh si penderita.

Jangan menunda pemberian serum karena tentu akan meningkatkan resiko kematian bagi penderita.

Oleh karena itu serum sebaiknya diberikan pada penderita tiga hari pertama sejak timbulnya gejala tersebut.

Setelah itu, antibiotik juga harus diberikan agar bakteri tersebut mati dan juga mencegah penyakit itu menular ke manusia lainnya.

Dari Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri tersebut, seharusnya pemerintah melakukan evaluasi penanganan difteri dengan menggunakan serum anti-difteri dan antibiotik.

Pemerintah harus memastikan tingkat efektivitas serum tersebut bagi masyarakat dan ketersediannya, sehingga KLB Difteri tidak terulang di masa mendatang.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved