Duh Berat Badan Naik Selama Pandemi, Apa Solusinya? Ini Saran Ahli Gizi

Pola makanan masyarakat berubah di masa pandemi. Berat badan pun tak terkontrol, Duh, apa yang harus dilakukan saat timbangan condong ke kana

via Tribun Kaltim
Duh Berat Badan Naik Selama Pandemi, Apa Solusinya? Ini Saran Ahli Gizi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pola makanan masyarakat berubah di masa pandemi Covid-19. Berat badan pun tak terkontrol, Duh, apa yang harus dilakukan saat timbangan condong ke kanan?

Pandemi ini memaksa semua orang untuk beradaptasi. Bekerja, sekolah, maupun beribadah juga dilakukan di rumah.

Spesialis Gizi Klinik, Dr. Diana F. Suganda, M.Kes, Sp.GK mengatakan, selama pandemi banyak pasien baru yang konsultasi dengan keluhan berat badan (BB) naik banyak sejak pandemi.

"Dari 10 pasien, 5 pasien mengeluhkan kenaikan berata badan," ungkapnya dalam webinar bertajuk 'Refleksi Setahun Pandemi, Masyarakat Semakin Abai atau Peduli Forum Ngobras dan Frisian Flag', Senin (23/3/2021).

ilustrasi menimbang berat badan
ilustrasi menimbang berat badan (Freepik)

Diana mengungkapkan, kebiasaan memesan makanan daripada memasak serta malas olahraga menjadi penyebabnya.

Biasanya, makanan yang dipesan tinggi kalori, garam, karbo sederhana, dan rendah serat. Kopi-kopi kekinian atau boba.

"Coba, berapa banyak di antara kita yang pesan makanan daring, tapi pesannya sayur kayak gado-gado atau salad? Pasti yang enak-enak. Apalagi ada promo. Kebanyang sehari, dua hari, lalu setahun," ungkap Diana.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Novavax dan Pfizer Diprediksi Masuk Indonesia Pertengahan Semester Dua 2021

Baca juga: Cerita Pengalaman di Penjara, Chaterine Wilson Akui Stres Berat: 7 Bulan Kayak Berjuta Tahun

"Yang diasup tidak sebanding dengan yang dikeluarkan, tidak sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Tidak heran, banyak pasien saya yang datang dengan keluhan BB naik selama pandemi," lanjut dia.

Berdasarkan Riskesdas 2018, angka penyakit infeksi sudah berkurang jauh.

Namun penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, kolesterol, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke, justru meningkat.

Ilustrasi.
Ilustrasi. (pluslifestyles)

"Anak-anak pun demikian. Dulu pagi-pagi berangkat ke sekolah, saat isirahat bermain sama teman-teman. Pulang sekolah ada ekskul. Sekarang, sekolah dari rumah, main dari rumah, ekskul pun terbatas. Makin banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya makin gemuk," kata Diana.

Untuk itu Diana menyarankan, agar mengurangi makanan-makanan yang tinggi garam, gula sederhana, dan lemak jenuh, apalagi lemak trans.

Misalnya makanan bersantan, gorengan, jeroan, junk food.

"Makanan seperti ini memicu inflamasi pada tubuh, membuat kita rentan terhadap infeksi. Ingat, virus COVID-19 masih ada," pesannya.

Imunitas tubuh harus dijaga. Selain menjaga pola makan, tetaplah aktif bergerak. Disarankan 150 menit/minggu.

"Jadi kalau dibagi 5 hari, cukup 30 menit/hari. Tidur cukup, jangan kebanyakan nonton sampai larut malam. Tidur cukup akan membantu menjaga imunitas. Kurangi beli makanan online, buatlah masakan di rumah. Ajaklah anak memasak bersama, agar mereka lebih semangat," ungkap Diana.

Selain itu penting juga untuk selalu menerapkan protokol kesehatan 5M. Jika merasakan gejala COVID-19, segeralah datang ke fasilitas kesehatan.

"Jangan karena takut, akhirnya terlambat datang. Datanglah ke faskes, dengan memakai masker dan menjalankan prokes, agar cepat mendapat pertolongan," ujarnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved