Hal yang Terjadi Jika Resisten Antibiotik Tak Segera Diatasi

Sebanyak 1,27 juta orang meninggal setiap tahun karena infeksi yang resistan terhadap obat.

Kompas.com
Resistensi obat antibiotik telah merenggut nyawa 700.000 penduduk dunia setiap tahunnya. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan prevalensi kasus resistensi antibiotik akibat mikroba terus meningkat. 

Saat ini sebanyak 1,27 juta orang meninggal setiap tahun karena infeksi yang resistan terhadap obat.

Sejak penemuan antimikroba 70 tahun yang lalu, jutaan orang telah terhindar dari penyakit.

Potensi antibiotik untuk mengobati atau mencegah penyakit telah menyebabkan peningkatan penggunaannya sampai obat tersebut disalahgunakan, diperoleh tanpa resep dokter, dan sering disalahgunakan pada manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. 

Akibatnya, muncul masalah resistensi antibiotik akibat mikroba (AMR) yang berevolusi. 

“Dampak luas AMR terus meningkat secara diam-diam di berbagai sektor termasuk ekonomi. Para ahli memperkirakan AMR dapat menyebabkan PDB tahunan global turun sebesar 3,8 persen pada tahun 2050. Kita harus mencegah hal ini terjadi dan membuat perubahan yang langgeng,” ungkap Wamenkes Dante dalam pertemuan Side Event AMR dalam rangkaian G20, pada Rabu (24/8) di Bali yang disiarkan melalui youtube.

AMR dapat menyebabkan sulitnya proses pengobatan. Semakin banyak penyakit yang tidak dapat diobati maka perawatan penyelamatan jiwa menjadi jauh lebih berisiko, dan biaya perawatan kesehatan meningkat.

“Dalam semangat memperkuat arsitektur kesehatan global, kita harus memfokuskan kembali upaya kita untuk mengatasi AMR,” ujar Wamenkes Dante.

Baca juga: Lupa Minum Antibiotik Berisiko Bahaya, Apa yang Harus Dilakukan?

Setiap negara harus bersama-sama menahan AMR melalui sejumlah upaya, antara lain melalui pendekatan one health, peningkatan surveilans AMR, peningkatan kapasitas laboratorium dan diagnostik.

Pengawasan lintas sektoral untuk penggunaan dan konsumsi antimikroba sangat penting untuk memahami dan memantau AMR. Data yang memadai juga mempengaruhi pengambilan di tingkat nasional, regional, dan global.

Peningkatan penelitian dan pengembangan AMR juga harus dilakukan, terutama pada obat-obatan baru, vaksin, terapeutik, dan diagnostik (VTD), termasuk layanan diagnostik antimikroba. Begitupun dengan tindakan pencegahan dan  pengendalian infeksi yang harus dilakukan lebih luas.

Upaya lainnya dilakukan dengan meningkatkan investasi di bidang penelitian, peningkatan kapasitas, dan pemanfaatan teknologi.

“AMR mengancam kesehatan, ekonomi, dan pencapaian SDGs. Untuk menumbuhkan kapasitas penelitian dan pengembangan global, kita harus mengamankan pendanaan yang cukup dan berkelanjutan,” ucap Wamenkes Dante.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved