Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Efek Gas Air Mata Dirasakan Lebih Berat pada Anak-anak

Sebagian anak-anak ikut jadi korban kerusuhan di Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. rata-rata mengalami sesak napas karena gas air mata.

Surya Malang/Purwanto
Kericuhan suporter Areman FC yang bentrok melawan polisi buntut kekalahan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. Dalam bentrok ini polisi menembakkan gas air mata dan 127 suporter termasuk 2 polisi dilaporkan tewas. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kerusuhan di penghujung laga Arema FC dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, menyisakan duka begitu dalam.

Dilaporkan rata-rata korban mengalami sesak napas karena gas air mata dari polisi, yang membuat supporter berlarian menuju pintu kelur dan kemudian berdesak-desakan.

Berdasarkan laporan kepolisian setempat tercatat 131 orang meninggal dalam peristiwa tersebut, termasuk anak-anak.

Dokter Spesialis Anak, dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A menuturkan, efek gas air mata jauh lebih berat dirasakan anak-anak ketimbang orang dewasa.

"Kapasitas paru yang masih terbatas membuat efek gas air mata jadi lebih berat dirasakan oleh anak-anak," kata dia mengutip cuitan di Twitter atas izin yng bersangkutan, Senin (3/10/2022).

Baca juga: Tragedi Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Warga Malang Diminta Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Dokter anak di RS Mayapada Jakarta Selatan ini pun mengingatkan, agar orangtua tidak mengikutsertakan anak-anak dibawah 5 tahun terutama bayi untuk ikut nonton pertandingan bola secara langsung.

"Jangan bawa anak nonton bola langsung di stadion, jika usia anak masih di bawah lima tahun, apalagi bayi. Suara riuhnya pertandingan langsung bisa merusak pendengaran bayi," pesan dokter Denta. 

Menurutnya, menonton pertandingan apalagi yang digelar malam hari bersama anak bukanlah hal yang menyenangkan bagi anak.

"Karena terlalu melelahkan buat anak juga. Gak usah juga bawa anak untuk nonton pertandingan dengan risiko rusuh tinggi. Selalu hindari kerumunan," ungkap dokter lulus FK UGM ini.

Jikapun harus membawa anak, pastikan usianya sudah diatas lima tahun.

Suasana di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, seusai kericuhan penonton yang terjadi seusai laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 bertajuk derbi Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam. Berikut fakta-fakta terkait tembakan gas air mata di Kerusuhan Stadion Kanjuruhan.
Suasana di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, seusai kericuhan penonton yang terjadi seusai laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 bertajuk derbi Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam. Berikut fakta-fakta terkait tembakan gas air mata di Kerusuhan Stadion Kanjuruhan. (KOMPAS.com/SUCI RAHAYU)

Kemudian, orangtua sudah paham terlebih dahulu dengan lay-out stadion, akses masuk-keluar, flow penonton, flow evakuasi, titik kumpul dan lain-lain.

Juga bekali anak dengan gelang nama berisi kontak orang tua dan nomor yang bisa dihubungi.

"Ini untuk menjaga kalau anak terlepas dari orang tua atau pengasuh," kata dia.

Datang dan pulang lebih awal. Kalaupun di luar negeri biasanya disarankan pulang paling akhir menunggu sebagian besar pada keluar.

Namun rasanya jika di Indonesia sebaiknya sebelum pertandingan berakhir sudah keluar stadion. Keselamatan anak di atas kesenangan orang tua. 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved