Dokter: Paparan BPA Berbahaya saat Dikonsumsi Lebihi Batas Maksimal
Masyarakat tidak perlu khawatir dalam menyikapi isu yang berkaitan dengan BPA.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Subspesialis Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes Dr. dr. Laurentius Aswin Pramono Sp.PD-KEMD, mengatakan, sejauh ini dalam pedoman dunia kedokteran dan kesehatan yaitu evidence-based medicine (kedokteran berbasis bukti) belum ada bukti ilmiah yang menyatakan, BPA (Bisphenol-A) bisa menyebabkan masalah Kesehatan.
Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir dalam menyikapi isu yang berkaitan dengan BPA.
Baca juga: Bagaimana BPA dalam Kemasan Dapat Bermigrasi ke Air? Ini Penjelasan Pakar
“BPA tidak masuk ke guideline manapun sama sekali. Belum ada konsensus bahwa BPA menyebabkan diabetes atau kanker. Belum ada sama sekali. Belum ada bukti (penelitian ilmiah) pada manusia. Yang ada hanya penelitian di lab dengan hewan coba,” terang ahli endokrin-metabolik ini dalam diskusi Forum Ngobras di Jakarta Selatan, Selasa (10/9/2024).
Ia menerangkan, penelitian yang dipublikasi saat ini merupakan penelitian ketika BPA diberikan secara sengaja dalam dosis yang sangat besar sehingga menimbulkan risiko kesehatan pada hewan coba.
Karena itu, BPA menyebabkan diabetes, kolesterol tinggi, kanker, infertilitas dan lain-lain, adalah mitos yang menyesatkan.
Demikian pula dengan kanker, infertilitas, obesitas, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya.
“Tidak ada satu pun dari penyakit ini yang disebabkan oleh BPA. Penyebab diabetes bukanlah BPA, melainkan penurunan produksi insulin akibat gaya hidup yang kurang baik, dan usia,” terang Dr. dr. Aswin.
Fakta lainnya, tubuh manusia akan memetabolisme berbagai zat kimia termasuk BPA.
BPA yang secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh, akan dibuang dan tidak terakumulasi di dalam tubuh.
Baca juga: Bukan Sekadar Tren, Masyarakat Perlu Mengetahui Fakta Terkait BPA dan Bahayanya
“Hati atau liver bisa memecah rantai BPA, dan dibuang melalui saluran pencernaan lewat BAB. Ada sebagian yang masuk ke ginjal, dan dibuang melalui urin,” jelas Dr. dr. Aswin.
Jika berat badan (BB) 75 kg, maka batas asupan harian BPA maksimal yaitu (4 x 75) = 300 mg.
Sekalipun air minum terpapar oleh BPA, kadarnya hanya 1/1.000 bagian.
Sehingga memerlukan 10.000 liter air dalam sekali minum untuk bisa mendapatkan kadar BPA yang melebihi ambang batas aman.
“Dan ini hal yang mustahil,” ujar dia.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.