Sabtu, 11 April 2026

Pakar Ingatkan Waspada Cuaca Panas Ekstrem, Mulai Heat Stroke, Dehidrasi, hingga Gangguan Jantung 

Cuaca panas ekstrem ukan sekadar membuat tubuh tidak nyaman, tetapi juga dapat memicu kondisi darurat medis yang berbahaya yaitu heat stroke.

medicalnewstoday.com
ILUSTRASI HEAT STROKE - Waspada potensi heat stroke ketika cuaca panas dan terik saat siang hari, simak gejala dan pencegahannya. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cuaca panas ekstrem kian sering melanda berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. 

Fenomena ini bukan sekadar membuat tubuh tidak nyaman, tetapi juga dapat memicu kondisi darurat medis yang berbahaya yaitu heat stroke.

Baca juga: 7 Fakta Heat Stroke: Serangan Panas yang Bisa Mengancam Jemaah Haji!

Epidemiolog dan pakar kesehatan lingkungan Dicky Budiman menegaskan bahwa heat stroke merupakan kondisi gawat darurat medis yang harus segera ditangani.

“Heat stroke ini kan kondisi darurat medis ya. Tindakan yang pertama harus dilakukan ya, si pasien, orang yang terdampak itu harus dipindahkan ke tempat yang sejuk, teduh. Jangan ada paparan langsung sinar matahari. Kemudian juga harus dilakukan pendinginan secara cepat,” jelas Dicky pada Tribunnews, Rabu (10/9/2025).


Tanda Bahaya dan Pertolongan Pertama

Heat stroke terjadi ketika mekanisme pengaturan suhu tubuh gagal bekerja. 

Gejalanya dapat berupa pusing, mual, tubuh terasa sangat lemah, hingga kehilangan kesadaran. 

Bila tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini bisa berujung pada kerusakan organ vital seperti ginjal, hati, jantung, bahkan otak.

Cuaca panas picu risiko heat stroke.
Cuaca panas picu risiko heat stroke. (Shutterstock)

Menurut Dicky, pendinginan darurat dapat dilakukan dengan melepas pakaian berlebih, memberi kipasan, menyemprotkan air, atau mengompres dengan es di area leher, ketiak, dan selangkangan. 

Bila memungkinkan, tubuh bisa direndam dalam air dingin. Namun yang tidak kalah penting, pasien segera dibawa ke fasilitas medis.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tingkat kematian akibat heat stroke dapat mencapai 10–50 persen jika penanganan terlambat.


Siapa yang Rentan?

Siapa saja bisa terkena heat stroke, tetapi ada kelompok yang lebih rentan, antara lain:

  • 1. Lansia di atas 65 tahun, terutama yang hidup sendiri.
  • 2. Anak-anak dan balita dengan mekanisme termoregulasi tubuh yang lemah.
  • 3. Pekerja lapangan seperti buruh konstruksi, petani, kurir, atau pengemudi ojek daring.
  • 4. Atlet dan tentara yang beraktivitas fisik intens di luar ruangan.
  • 5. Orang dengan penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, atau gangguan ginjal.

Masyarakat miskin perkotaan yang tinggal di pemukiman padat tanpa ventilasi baik, sehingga lebih rentan terkena fenomena urban heat island.

“Kalau pasien tidak sadar, dia harus diposisikan miring ya, untuk mencegah aspirasi. Jadi miring kanan khususnya. Kemudian, yang memperparah heat stroke itu dehidrasi berat, aktivitas fisik intensif, pakaian tebal, serta konsumsi obat-obatan tertentu seperti diuretik atau beta blocker,” terang Dicky. 


Pemanasan Global dan Ancaman Kesehatan

Pemanasan global memperburuk ancaman heat stroke di masa depan. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved