Selasa, 5 Mei 2026

Beda Osteoporosis pada Anak dengan Dewasa, IDAI Jelaskan Penyebab dan Cara Deteksinya

Ikatan Dokter Anak Indonesia jelaskan perihal osteoporosis yang bisa menyerang anak-anak. Mulai dari gejala hingga cara mencegahnya.

Tayang:
Tribunnews/Jeprima
ILUSTRASI ANAK - Seorang siswa diukur tinggi badannya oleh petugas kesehatan sebelum imunisasi di balai warga Pademangan Timur, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2020). IDAI menjelaskan terkait osteoporosis di kalangan anak-anak. 

Ringkasan Berita:
  • Osteoporosis tidak hanya bisa menyerang lanjut usia (lansia), namun juga anak-anak
  • Dokter IDAI menekankan adanya perbedaan penyebabnya serta gejala osteoporosis antara lansia dengan anak-anak
  • Osteoporosis pada anak dapat dicegah sejak dini sehingga dapat optimalkan tumbuh kembangnya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama ini osteoporosis dikenal sebagai penyakit yang menyerang orang lanjut usia (lansia), terutama perempuan setelah menopause. 

Namun ternyata, kondisi rapuh tulang juga bisa dialami anak-anak, meski dengan mekanisme yang sangat berbeda.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Frieda Susanti, SpA, Subsp. Endo(K), PhD, menjelaskan bahwa osteoporosis pada anak tidak bisa disamakan dengan osteoporosis pada orang dewasa. 

Perbedaan ini bukan hanya dari penyebabnya, tetapi juga dari cara diagnosis hingga gejalanya.

“Osteoporosis pada anak, apakah sama dengan osteoporosis pada orang dewasa? Tidak. Beda,” tegas dr. Frieda dalam paparannya pada media briefing virtual, Selasa (21/10/2025).

Baca juga: Risiko Osteoporosis Meningkat Setiap Dekade, Ini Saran Dokter untuk Mencegahnya

Tak Bisa Gunakan T-Score, Anak Diukur dengan Z-Score

Menurut dr. Frieda, osteoporosis pada orang dewasa umumnya diukur melalui pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) menggunakan T-score. 

Nilai T-score ini menunjukkan seberapa jauh kepadatan tulang seseorang dibandingkan dengan nilai rata-rata orang dewasa muda yang sehat.

Namun, metode itu tidak bisa diterapkan pada anak-anak. 

Sebab, anak belum mencapai peak bone mass atau puncak kepadatan tulang yang biasanya baru tercapai di usia sekitar 20 tahun.

“Kalau T-score itu berdasarkan peak bone mass, sementara anak belum mencapainya. Jadi tidak bisa pakai T-score. Pada anak kita pakai Z-score, yaitu perbandingan terhadap kelompok usia sebaya,” jelasnya.

Artinya, dalam menilai kepadatan tulang anak, dokter akan membandingkan hasil BMD dengan nilai rata-rata anak-anak seusianya, bukan orang dewasa. 

Karena itu, kriteria diagnosis osteoporosis pada anak jauh lebih kompleks.

Satu Fraktur Bisa Jadi Tanda Osteoporosis Anak

Osteoporosis pada orang dewasa biasanya ditentukan dari nilai T-score kurang dari -2,5. 

Sedangkan pada anak, kriteria diagnosis tidak hanya mengacu pada angka, tetapi juga pada riwayat patah tulang atau fraktur.

Menurut dr. Frieda, jika seorang anak mengalami fraktur tulang belakang (vertebra) meski hanya satu kali, itu sudah bisa dikategorikan sebagai osteoporosis anak. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved