Jumat, 10 April 2026

Beda Osteoporosis pada Anak dengan Dewasa, IDAI Jelaskan Penyebab dan Cara Deteksinya

Ikatan Dokter Anak Indonesia jelaskan perihal osteoporosis yang bisa menyerang anak-anak. Mulai dari gejala hingga cara mencegahnya.

Tribunnews/Jeprima
ILUSTRASI ANAK - Seorang siswa diukur tinggi badannya oleh petugas kesehatan sebelum imunisasi di balai warga Pademangan Timur, Jakarta Utara, Jumat (23/10/2020). IDAI menjelaskan terkait osteoporosis di kalangan anak-anak. 

Padahal, aktivitas fisik seperti berlari, melompat, dan bermain di luar ruangan merupakan cara alami tubuh untuk merangsang pembentukan tulang baru.

Selain itu, anak-anak dengan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang juga rentan kehilangan massa tulang. 

Obat steroid, misalnya, bisa menghambat proses pembentukan tulang bila digunakan terus-menerus.

Pencegahan Sejak Dini

Kesadaran orangtua menjadi kunci dalam mencegah gangguan kepadatan tulang pada anak. 

Pemeriksaan dini penting dilakukan jika anak menunjukkan gejala seperti mudah pegal, sering jatuh dan patah tulang, atau memiliki bentuk kaki yang tidak normal (misalnya kaki O atau X).

Pola makan seimbang yang kaya kalsium, vitamin D, serta olahraga teratur perlu diterapkan sejak dini. 

Paparan sinar matahari pagi selama 10–15 menit juga membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami.

“Kalau tulangnya kuat, anak bisa beraktivitas optimal, tumbuh dengan baik, dan siap menghadapi masa depannya dengan tubuh yang sehat,” tutupnya. 

(Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved