Cuaca Tak Menentu, Polusi Naik, Kasus ISPA di Jakarta Nyaris Tembus 2 Juta
ISPA di Jakarta sudah nyaris 2 juta kasus. Polusi, cuaca, dan perilaku warga picu lonjakan. Pakar sebut ini alarm ekologis perkotaan.
Ringkasan Berita:
- ISPA Jakarta nyaris 2 juta, lonjakan dimulai sejak musim kemarau.
- Polusi, cuaca ekstrem, dan perilaku warga picu transmisi virus.
- Pakar sebut ISPA jadi alarm ekologis, bukan sekadar infeksi biasa.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jakarta yang hampir menembus dua juta hingga Oktober 2025 memicu kekhawatiran publik.
Fenomena ini terjadi di tengah cuaca ekstrem, polusi udara tinggi, dan pola musim yang tak menentu.
Dikutip dari Kompas.com, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 1.966.308 kasus ISPA sejak Januari hingga Oktober 2025.
Peningkatan tajam mulai terlihat sejak Juli, bertepatan dengan musim kemarau basah dan memburuknya kualitas udara di Jabodetabek.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyebut ISPA sebagai penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi di puskesmas, karena penularannya mudah melalui droplet dan partikel aerosol.
Cuaca Tak Menentu & Polusi Pekat: Kombinasi yang Picu Ledakan ISPA
Pakar epidemiologi dan kesehatan global, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa lonjakan ISPA dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem, perilaku masyarakat, dan buruknya kualitas udara.
“Kaitan pengaruh cuaca ekstrem dan iklim, jadi fenomena kemarau basah atau perubahan pola musim seperti yang disebutkan Dinas Kesehatan DKI itu berpengaruh secara tidak langsung,” ujarnya kepada Tribunnews, Kamis (23/10/2025).
Menurutnya, fluktuasi suhu dan kelembapan memengaruhi stabilitas virus di udara. Virus penyebab ISPA cenderung bertahan lebih lama dalam kondisi kering dan dingin.
Perubahan perilaku masyarakat saat cuaca ekstrem, seperti lebih banyak berada di ruang tertutup dengan ventilasi buruk, turut meningkatkan risiko penularan.
Baca juga: Lonjakan Penyakit Flu Landa Asia, Virus Influenza H3N2 Dominasi Kasus di Indonesia
Dicky juga menyoroti penurunan disiplin pascapandemi. Kepatuhan terhadap etika batuk, penggunaan masker, dan kebiasaan mencuci tangan mulai menurun.
Faktor lain seperti kepadatan penduduk, keterlambatan vaksinasi influenza dan pneumonia, serta kualitas udara dalam ruangan yang buruk memperburuk situasi.
“Stres dan kelelahan fisik juga menurunkan daya tahan tubuh, membuat masyarakat lebih rentan terhadap infeksi pernapasan,” tambahnya.
Masker Longgar, Ventilasi Buruk: Warga Diminta Waspada ISPA
Untuk menekan lonjakan kasus, Dicky menyarankan langkah pencegahan komprehensif.
Ia merekomendasikan penggunaan masker N95 saat indeks polusi tinggi, membatasi aktivitas luar ruangan pada jam-jam polusi puncak, serta penggunaan air purifier di rumah atau kantor, terutama bagi anak-anak dan lansia.
“Jangan lupa vaksinasi influenza, karena vaksin ini diperbarui setiap tahun dan memberikan proteksi silang terhadap berbagai jenis virus,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemandangan-gedung-bertingkat-di-Jakarta-diselimuti-asap-polusi-udara.jpg)