Bukan Sekadar Ruam, Campak Bisa ‘Hapus’ Kekebalan Tubuh Anak, Ini Penjelasannya
Tanpa perlindungan, infeksi campak dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, hingga kematian.
Ringkasan Berita:
- Meski anak sudah pernah memiliki kekebalan terhadap berbagai infeksi, perlindungan tersebut bisa hilang setelah terinfeksi campak
- Fenomena ini dikenal sebagai immune amnesia, kondisi yang membuat tubuh kehilangan perlindungan terhadap berbagai penyakit lain setelah sembuh dari campak
- Dengan kata lain dampak campak bisa berlangsung jangka panjang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Campak selama ini sering dianggap sebagai penyakit ringan yang identik dengan anak-anak.
Padahal, di balik gejala seperti demam dan ruam, terdapat dampak tersembunyi yang jauh lebih berbahaya: kemampuan virus ini untuk melemahkan bahkan “menghapus” sistem kekebalan tubuh.
Fenomena ini dikenal sebagai immune amnesia, kondisi yang membuat tubuh kehilangan perlindungan terhadap berbagai penyakit lain setelah sembuh dari campak.
Di tengah meningkatnya kasus campak di Indonesia, risiko ini menjadi perhatian penting yang masih belum banyak dipahami masyarakat.
Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menunjukkan Indonesia mencatat lebih dari 17 ribu kasus campak sepanjang 2025 dan menempati posisi kedua terbanyak di dunia.
Baca juga: KLB Campak Meningkat, 290 Ribu Nakes Diprioritaskan Vaksinasi Dewasa
Tingginya angka ini tidak hanya berisiko pada saat infeksi berlangsung, tetapi juga setelah pasien dinyatakan sembuh.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, dr. Nina Dwi Putri, Sp.A(K), MSc (TropPaed), menjelaskan bahwa dampak campak bisa berlangsung jangka panjang.
“Interaksi fisik yang intens di ruang tertutup, seperti di transportasi umum atau kelas, dapat mempermudah penyebaran virus melalui percikan batuk atau bersin. Dampak jangka panjangnya pun sangat mengkhawatirkan, salah satunya yaitu immune amnesia,” ujar dr. Nina pada keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Apa Itu Immune Amnesia?
Immune amnesia adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan “ingatan” terhadap penyakit yang pernah dilawan sebelumnya.
Artinya, meski anak sudah pernah memiliki kekebalan terhadap berbagai infeksi, perlindungan tersebut bisa hilang setelah terinfeksi campak.
"Studi ilmiah menunjukkan bahwa 11 persen hingga 73 persen dari “bank memori” antibodi dapat hilang setelah infeksi campak. Artinya, ketika anak terkena campak, pertahanan tubuh yang sudah terbentuk bisa runtuh. Setelah sembuh, anak justru menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri atau virus lain,"kata dr Nina lebih lanjut.
Kondisi ini membuat anak yang telah sembuh dari campak tetap berada dalam risiko tinggi terkena penyakit lain, bahkan dalam jangka waktu yang tidak singkat.
Campak termasuk penyakit dengan daya tular sangat tinggi.
Satu orang penderita dapat menularkan virus kepada banyak orang, terutama di lingkungan padat seperti rumah, sekolah, atau transportasi umum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-penyakit-campak-pada-anak.jpg)