Wabah Campak
Campak Bangkit Lagi Setelah Pandemi, 11 Juta Kasus dan 95 Ribu Kematian
Angka kematian akibat campak secara global turun tajam hingga 88 persen sejak tahun 2000.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM – Angka kematian akibat campak secara global turun tajam hingga 88 persen sejak tahun 2000.
Namun di balik kabar baik itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa kasus campak justru meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Anak di Bawah 10 Tahun dari Indonesia Positif Campak, Pemda Kyoto Imbau Warga Waspada
Terutama setelah pandemi COVID-19 mengganggu cakupan imunisasi di banyak negara.
WHO mencatat, hampir 59 juta jiwa berhasil diselamatkan oleh vaksin campak sejak 2000.
Namun pada tahun 2024, campak tetap merenggut sekitar 95.000 nyawa, mayoritas anak di bawah usia lima tahun.
Meski menjadi angka kematian tahunan terendah dalam dua dekade, WHO menilai satu kematian pun akibat penyakit yang sepenuhnya dapat dicegah adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.
“Campak adalah virus paling menular di dunia, dan data ini sekali lagi menunjukkan bagaimana virus ini akan memanfaatkan celah apa pun dalam pertahanan kolektif kita terhadapnya,” kata Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dilansir dari website resmi WHO, Jumat (28/11/2025).
Kasus Meningkat di Banyak Kawasan Dunia
Sepanjang 2024, diperkirakan terdapat 11 juta infeksi campak di seluruh dunia,angka yang 800.000 lebih tinggi dari tingkat sebelum pandemi.
Kenaikan kasus terlihat signifikan di sejumlah wilayah WHO, yaitu 86 persrn di kawasan Mediterania Timur, 47 persen di Eropa, 42 persen di Asia Tenggara
Sebaliknya, Kawasan Afrika justru mencatat penurunan 40 persen kasus dan 50 persen kematian, berkat penguatan cakupan imunisasi di negara-negara berisiko.
Baca juga: Jakarta Barat Tetapkan Status KLB Campak: 38 Kasus Terpantau di Kapuk Cengkareng
WHO menegaskan bahwa anak-anak tetap berisiko mengalami komplikasi berat seperti kebutaan, pneumonia, hingga ensefalitis, infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak dan berpotensi merusak fungsi neurologis jangka panjang.
WHO dan UNICEF melaporkan cakupan global vaksin campak pada 2024 masih berada di bawah ambang aman untuk mencegah penyebaran.
Hanya 84 persen anak yang menerima dosis pertama dan 76 persen menerima dosis kedua.
Padahal, untuk menghentikan penularan diperlukan cakupan minimal 95 persen dengan dua dosis vaksin.
Lebih dari 30 juta anak tercatat tidak memiliki perlindungan memadai terhadap campak pada 2024.
Dengan seperempatnya tinggal di kawasan Afrika dan Mediterania Timur yang sering terdampak konflik, kemiskinan, dan lemahnya layanan kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/antisipasi-campak-dinkes-malang-melakukan-imunisasi-balita_20230202_134443.jpg)