Penderita Diabetes di Indonesia Tinggi, Studi Terbaru Ungkap Manfaat Penggunaan Insulin IDegAsp
Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi. Ada hasil penelitian terbaru terkiat terapi diabetesi.
Ringkasan Berita:
- Penderita diabetes di Indonesia lebih tinggi dari rata-rata kawasan Asia Tenggara.
- Penelitian terbaru menunjukkan, penggunaan insulin degludec/insulin aspart (IDegAsp) di Indonesia efektif menurunkan kadar gula darah.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi seperti tertulis pada data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas edisi ke-11 tahun 2025,
Pada 2024, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 20,426.4 ribu orang (sekitar 20,4 juta jiwa).
Prevalensi diabetes yang disesuaikan dengan umur adalah 11,3 persen, lebih tinggi dari rata-rata kawasan Asia Tenggara (10,8 persen).
Baca juga: Tak Diberikan Sembarangan, Ini Pasien Diabetes yang Bisa Menerima Suntikan Insulin
Hal ini menunjukkan, lebih dari 1 dari 9 orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes, dan jumlah ini kemungkinan akan terus meningkat seiring perubahan gaya hidup, pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan faktor genetik.
Diantara kabar mengkhawatirkan itu ada angin segar dari dunia riset terkait penanganan diabetes.
Penelitian terbaru menunjukkan, penggunaan insulin degludec/insulin aspart (IDegAsp) di Indonesia efektif menurunkan kadar gula darah dan aman digunakan dalam jangka panjang.
Studi lokal ini dilakukan RSUD Dr. Zainoel Abidin/FK Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Studi Real World Evidence (RWE) pertama di Indonesia ini melibatkan 550 pasien diabetes, yang terdiri dari 502 orang pasien diabetes tipe 2 dan 48 orang pasien diabetes tipe 1, dengan masa pengamatan hingga lima tahun.
Penelitian ini penting karena menambahkan bukti untuk global dari Indonesia tentang efektivitas dan keamanan terapi IDegAsp.
Penelitian ini dilakukan oleh para dokter dari divisi Endokrinologi, Metabolik & Diabetes, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Zainoel Abidin/FK Universitas Syiah Kuala dan Research Center Endokrinologi dan Metabolik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh yaitu dr. Hendra Zufry, dr. Khrisna Wardhana, dr. Agustia Sukri Ekadamayanti dan Dr.Qonita Iqbal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terjadi penurunan HbA1c yang sangat besar (lebih dari 3 persen), disertai penurunan gula darah puasa (FPG) dan gula darah setelah makan (PPG) yang juga cukup besar, baik pada diabetes tipe 1 maupun tipe 2.
Selain efektif, terapi IDegAsp juga aman, dengan 97 persen pasien tipe 2 tidak mengalami hipoglikemia dan tidak ada kasus hipoglikemia berat pada kedua kelompok.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam subspesialis Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, dr.
Hendra Zufry menyebut, dengan data lokal ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan panduan klinis dan menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan terkait penanganan diabetes di tingkat nasional.
Ditambahkan, dr. Hendra Zufry terapi diabetes dengan IDegAsp telah menjadi bagian dari layanan kesehatan yang ditanggung JKN sejak 2021.
Data dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar yang lebih kuat untuk mendukung keberlanjutan dan perluasan akses terapi IDegAsp bagi pasien yang membutuhkan pengendalian gula darah yang lebih optimal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/suntikan-insulin-d-100-insulin-jepang.jpg)